Minggu, 21 Agustus 2011

PEMBUATAN MAGGOT



Maggot adalah bahasa kerennya Belatung/Larva Lalat. Pembuatannya sangat sederhana. Hanya memanfaatkan Limbah sayur-mayur yang dibusukkan.

Cara pembuatannya adalah sebagai berikut:

Siapkan karung bawang yang ada pori-porinya
Masukkan ke karung bawang tersebut Limbah sayur-mayur yang mudah didapat dari pasar-pasar tradisional dengan gratis (hanya perlu biaya transport berupa bensin motor atau biaya angkut mobil pick up.
Susun rata di sebidang tanah kosong karung-karung yang telah terisi limbah sayur masyur tersebut
Siapkan rebusan air yang telah dicampur 1 ekor ikan atau 1 ekor cumi, dan siramkan ke atas media karung tersebut secara merata. Tujuannya adalah mengundang Lalat Hijau untuk dating berkunjung dan menikamti hidangan lezat yang kita sajikan J
Biasanya sambil menikmati hidangan tersebut, Lalat hijau akan meletakkan telurnya diatas media karung tersebut
Siram setiap hari Karung tersebut dengan air yang telah dicampur Prebiotik agar Limbah sayur tersebut cepat membusuk.
Dalam 3 hari sudah terlihat Larva Lalat yang menetas dan memakan limbah sayr yang busuk tersebut.
Jadikan Pakan alami yang berprotein tinggi kepada ikan.



Catatan: Harap diperhatikan aroma yang timbul dari proses pembusukan ini karena kalau lokasi budidaya ikan ini dekat dengan lokasi pemukiman dikhawatirkan akan nada protes dari warga sekitar. Namun jika lokasi jauh dari penduduk maka proses ini sangat baik untuk dilanjtkan karena biaya pakan akan sangat murah dan ikan cepat besar.

=========================================================================

Artikel. 2.



PAKAN IKAN

Maggot, Simbol Perlawanan Pembudidaya Ikan
Rabu, 13 Oktober 2010 | 03:36 WIB
Sumber : www.kompas.com

Sejak puluhan tahun lalu, Desa Pengadang, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, dikenal sebagai penghasil berbagai jenis ikan air tawar untuk Kabupaten Sanggau hingga ke wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia.
Namun, pada pertengahan tahun 2009, usaha budidaya berbagai jenis ikan air tawar itu gulung tikar karena kenaikan harga pakan. Kini, usaha budidaya kembali menggeliat berkat keberhasilan percobaan penggunaan maggot (larva lalat hutan) sebagai pakan alami.
Ketua Kelompok Tani Semangat Baru, Desa Pengadang, Aleng mengatakan, harga pakan ikan buatan pabrik mencapai Rp 9.000 per kilogram dari semula hanya Rp 4.500 per kilogram pada akhir tahun 2008. ”Para pembudidaya tidak memiliki pilihan selain menutup usaha budidaya karena keuntungannya sangat kecil,” kata Aleng, pertengahan September lalu.
Maka, begitu ada tawaran dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Barat untuk membuat percontohan penggunaan maggot sebagai pakan alami pada Mei 2010, para pembudidaya langsung menyambut baik. Di Kampung Munyau, Desa Pengadang, uji coba pembiakan maggot dilakukan. Setelah dihitung, ternyata ongkos produksi maggot memang jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga pakan ikan dari pabrik.
Dedi Sulardi, pendamping kelompok tani di Munyau, menuturkan, ongkos produksi maggot hanya Rp 3.500 per kilogram. Maggot bisa dibiakkan dengan menggunakan limbah pengolahan minyak kelapa sawit. Kebetulan, di Sanggau terdapat banyak pabrik kelapa sawit yang menghasilkan limbah pengolahan sehingga ongkos produksi bisa ditekan.
”Pembudidaya dan pabrik saling membutuhkan karena limbah itu sebetulnya merepotkan pabrik. Setiap hari limbah terus bertambah tanpa bisa diolah,” kata Dedi.
Dedi menambahkan, maggot yang bisa diproduksi sendiri oleh para pembudidaya itu sudah diuji di laboratorium. Hasilnya, kandungan protein maggot bagus, bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan pakan pabrik. Kandungan protein itu diturunkan dengan mencampurkan sejumlah bahan alami.
Pembudidaya ikan air tawar di Munyau, Benyamin (46), mengatakan, maggot dapat memberi harapan baru untuk kelanjutan usaha budidaya ikan tawar.
”Kami sempat putus asa karena harga pakan naik terus hingga akhirnya kami bangkrut. Sekarang, maggot bisa mengembalikan usaha budidaya ikan yang menjadi pekerjaan turun-temurun di sini,” kataBenyamin.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Barat Gatot Rudiyono beberapa waktu lalu mengatakan, untuk wilayah pedalaman, budidaya ikan air tawar merupakan usaha menjanjikan. ”Konsumennya ada, tetapi pasokannya terbatas. Kami sempat khawatir setelah budidaya ikan air tawar di Sanggau gulung tikar akibat kenaikan harga pakan,” kata Gatot.
Semenjak budidaya ikan air tawar gulung tikar akibat kenaikan harga pakan, ikan patin selundupan dari Serawak, Malaysia, membanjiri pasar di Kabupaten Sanggau.
Dengan pakan maggot, para pembudidaya kini mampu memproduksi lagi ikan tawar yang mencapai puluhan ton setiap bulan sehingga bisa mengambil alih pasar yang semula dikuasai oleh ikan selundupan dari Serawak.
Selain maggot yang menjadi pakan alami ikan air tawar, para pembudidaya juga mendapatkan keuntungan lain berupa ampas limbah pembiakan maggot. Ampas yang sudah tidak digunakan untuk membiakkan maggot, setelah diteliti, ternyata memiliki unsur hara tinggi.
Aleng mengatakan, limbah pembiakan itu sama bagusnya dengan pupuk organik yang dijual di pasaran. ”Sejak Agustus lalu kami mulai membuka lahan tidak produktif di sebelah Kampung Munyau untuk ditanami sayuran organik,” kata Aleng.
Lahan sekitar 5 hektar di Kampung Munyau sudah memproduksi sayuran organik secara rutin sejak September lalu. Dengan maggot, para pembudidaya tidak hanya berhasil melawan ”penjajahan” pakan pabrik, tetapi bisa memproduksi sayuran organik yang bernilai ekonomi tinggi. (AHA)


0 komentar:

Poskan Komentar