Kamis, 29 September 2011

Pemanfaatan Limbah sebagai Media Budidaya Maggot untuk Pakan Tambahan pada Budidaya Pembesaran Lele

Pemanfaatan Limbah sebagai Media Budidaya Maggot untuk Pakan Tambahan pada Budidaya Pembesaran Lele

Oleh Eddy Santoso · Terakhir disunting sekitar seminggu yang lalu · Sunting Dokumen
                            Pemanfaatan Limbah sebagai Media Budidaya Maggot
                           untuk Pakan Tambahan pada Budidaya Pembesaran Lele

presentasi dalam:
FORUM GROUP DISCUTION (FGD) PENGEMBANGAN BUDIDAYA LELE ORGANIK, GURIH ALAMI, Klaten 17 September 2011
Oleh : Eddy Santoso

Tujuan : memberikan wacana tentang pemanfaatan berbagai macam limbah organik yang mudah didapatkan (diaplikasikan) untuk budiday maggot dari Lalat Hijau (Calliphora sp) yang mudah ditemui disekitar kita.
Batasan : Pakan tambahan dalam bentuk pakan hidup tidak dapat menggantikan (men subtitusi) fungsi pellet secara utuh, untuk tambahan / subtitusi disarankan hanya 20%-30%

Pendahuluan
Seperti kita ketahui bersama, pakan merupakan biaya terbesar dalam budidaya pembesaran lele (50-70%). Untuk itu perlu adanya terobosan yang sifatnya sederhana serta aplikatif oleh pembudidaya pembesaran lele. Salah satunya adalah budidaya Maggot yang sudah banyak kita dengar sejak tahun 2005. Dari berbagai penelitian oleh ilmuwan–ilmuwan kita, saya berusaha merangkumnya dengan tujuan agar lebih mudah diaplikasikan sendiri oleh pembudidaya lele.
Maggot sebagai salah satu sumber protein hewani (30-45% protein) sangat potensial sebagai pakan tambahan utk budidaya pembesaran lele, kelebihan lain dari belatung ini memiliki kandungan antimikroba dan anti jamur, sehingga apabila dikonsumsi oleh ikan akan tahan terhadap penyakit bakterial dan jamur.  Maggot dapat dihasilkan dari 2 jenis lalat yaitu Black Soldier Fly (Hermetia illucens) dan lalat hijau (Calliphora sp). Dari berbagai penelitian dapat dirangkum teknis budidaya Maggot yang sederhana dan aplikatif sebagai berikut:  

  1. Jenis Lalat yang dipakai : lalat hijau (Calliphora sp)
  2. Sistem budidaya terbuka dengan fermentasi media menggunakan mikrobia probiotik untuk meningkatkan kandungan nutrisi limbah serta menekan bakteri dan jamur yg merugikan pada media.
  3. Media : Syarat utama media adalah masih memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, pemilihan jenis media sangat berpengaruh terhadap maggot yang dihasilkan.
           -  Ampas Tahu + probiotik (BeKa Fish Probiotik) : 
              Mudah didapat, murah, proses fermentasi relatif cepat (7 hari)
               - Limbah kotoran Ayam / Puyuh + Probiotik (BeKa Chick Probiotik) :
                 Mudah didapat, murah, proses fermentasi agak lama (30 hari)
                 - Limbah Sawit (Palm Kerneal Meal) + Probiotik (BeKa Decomposer Plus):
                   Tidak mudah didapat, proses fermentasi agak lama (30 hari)
                   - Limbah kotoran Cattle (Sapi, Kambing dan hewan berkaki 4 lainnya) + Probiotik (BeKa Decomposer Plus) :
                     Mudah didapat, murah, proses fermentasi agak lama (30 hari)
                     - Media lainnya (sampah2 organik)

               4. Cara Kerja : (pada Forum FDG hanya dibahas ampas tahu)

                    - Fermentasi media :
            • Ampas tahu : 30 kg + air 15 liter + 5 cc BeKa Fsih Probiotik kemudian dimasukan ke dalam tong plastik, ditutup dengan sedikit lubang udara, timbun dengan sekam padi untuk mempertahankan suhu. Proses fermentasi ini memerlukan waktu selama 7 hari.
            • Untuk cara fermentasai media lainnya tidak dibahas dalam forum ini, mengingat keterbatasan waktu.

                   - Telur diperoleh dari lalat liar atau serangga bunga. Pada forum ini kita hanya membahas lalat hijau yg mudah didapatkan. Untuk merangsang agar lalat mau bertelur dilakukan dengan menempatkan ikan mati yang sudah dipotong-potong kemudian disimpan dalam wadah seperti baki plastik atau petridish yang selanjutnya ditempatkan dalam ruang terbuka.
                    -  Setelah diperoleh telur, kemudian disimpan dalam media kultur maggot. Pemeliharaan dalam media kultur dilakukan selama 4-5 hari. Setelah itu magot dapat dipanen, dengan cara dipisahkan dari media kultur dan berbagai kotoran lainnya. Adapun untuk larva magot dari serangga bunga pemeliharaan dalam media kultur memerlukan waktu 5-7 hari.


                 5. Beberapa Hasil & Pembahasan Penelitian tentang Budidaya Maggot:
              Beberapa Hasil Penelitian tentang budidaya Maggot : (sumber : BBPBAT Sukabumi, Jawa Barat
               dilaksanakan pada bulan April sampai Desember Tahun Anggaran 2005 di Laboratorium Pakan, danWorkshop Pakan BBPBAT Sukabumi, Jawa Barat)
              Produksi magot Calliphora sp dari cara pemeliharaan secara terbuka disajikan pada Tabel 1, hasil sistem tertutup disajikan pada Tabel 2 dan hasil produksi dalam selang 17 hari dari setiap wadah disajikan pada Tabel 3. 

              Tabel 1. Produksi maggot lalat hijau (Calliphora sp) umur 4 hari dalam bobot basah (kg) pada sistem pemeliharaan terbuka

              Tabel 2. Produksi magot Calliphora sp umur 4 hari dalam bobot basah (kg) pada sistem pemeliharaan tertutup
              Ket. : PKM = Palm Kerneal Meal (Limbah Kelapa Sawit)

              Tabel 3. Produksi maggot lalat hijau (Calliphora sp) umur 4 hari dalam bobot basah (kg) pada sistem pemeliharaan terbuka selama 17 hari menggunakan limbah ampas tahu (15 kg/wadah)
                Kesimpulan
                Berdasarkan hasil perekayasaan di Laboratorium Pakan, dan Workshop Pakan BBPBAT Sukabumi, Jawa Barat, 2005 ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
                - Model kultur magot yang dapat menghasilkan produksi yang tinggi adalah sistem kultur terbuka dibandingkan sistem tertutup. Dengan model ini, dapat diproduksi magot jenis Callipora sp dalam waktu produksi 17 hari dengan media kultur sebanyak 255 kg, diperoleh magot sebanyak 134 kg, sedangkan untuk jenis Hermetia illucens dalam waktu produksi 51 hari dengan media kultur sebanyak 150 kg, diperoleh magot sebanyak 91 kg.
                - Media kultur yang terbaik untuk magot jenis Calliphora sp adalah ampas tahu, sedangkan untuk jenisHermetia illucens adalah bungkil sawit (PKM) yang sudah difermentasi.

                Saran
                Berdasarkan hasil perekayasaan di Laboratorium Pakan, dan Workshop Pakan BBPBAT Sukabumi, Jawa Barat, 2005 ini, disarankan :
                - Jenis magot untuk dikembangkan secara massal yang terbaik adalah Hermetia illucens dibandingkan dengan Calliphora sp. Karena Hermetia illucens pada usia dewasa dalam kebiasaan hidupnya tidak hinggap dalam makanan manusia dan sebagai makanan utamanya adalah saribunga. Sedangkan Calliphora sp biasanya makanan utamanya adalah binatang yang sudah menjadi bangkai.
                - Dilihat dari kandungan proksimatnya, magot ini dapat dijadikan sumber protein alternatif tepung ikan, sehingga ada harapan mendapatkan protein hewani yang berkelanjutan dengan memanfaatkan limbah industri pertanian, yaitu limbah sawit.

                Gambar-gambar Wadah Budidaya Maggot:

                0 komentar:

                Poskan Komentar