Selasa, 20 September 2011

CARA PINTAR BUDIDAYA CACING TANAH by Adhie- Lam-Community-Development

Artikel.1

BUDIDAYA CACING TANAH ( Lumbricus sp.)
Selasa, 11 November 2008 14:31:59 - oleh : admin

1.   SEJARAH SINGKAT

Cacing tanah termasuk hewan tingkat rendah karena tidak mempunyai tulang belakang (invertebrata). Cacing tanah termasuk kelas Oligochaeta. Famili terpenting dari kelas ini Megascilicidae dan Lumbricidae Cacing tanah bukanlah hewan yang asing bagi masyarakat kita, terutama bagi masyarakat pedesaan. Namun hewan ini mempunyai potensi yang sangat menakjubkan bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia.

2.   SENTRA PERIKANAN

Sentra peternakan cacing terbesar terdapat di Jawa Barat khususnya Bandung-Sumedang dan sekitarnya.

3.   JENIS CACING TANAH

Jenis-jenis yang paling banyak dikembangkan oleh manusia berasal dari famili Megascolicidae dan Lumbricidae dengan genus Lumbricus, Eiseinia, Pheretima, Perionyx, Diplocardi dan Lidrillus. Beberapa jenis cacing tanah yang kini banyak diternakan antara lain: Pheretima, Periony dan Lumbricus. Ketiga jenis cacing tanah ini menyukai bahan organik yang berasal dari pupuk kandang dan sisa-sisa tumbuhan. Cacing tanah jenis Lumbricus mempunyai bentuk tubuh pipih. Jumlah segmen yang dimiliki sekitar 90-195 dan klitelum yang terletak pada segmen 27-32. Biasanya jenis ini kalah bersaing dengan jenis yang lain sehingga tubuhnya lebih kecil. Tetapi bila diternakkan besar tubuhnya bisa menyamai atau melebihi jenis lain. Cacing tanah jenis Pheretima segmennya mencapai 95-150 segmen. Klitelumnya terletak pada segmen 14-16. Tubuhnya berbentuk gilik panjang dan silindris berwarna merah keunguan. Cacing tanah yang termasuk jenis Pheretima antara lain cacing merah, cacing koot dan cacing kalung. Cacing tanah jenis Perionyx berbentuk gilik berwarna ungu tua sampai merah kecokelatan dengan jumlah segmen 75-165 dan klitelumnya terletak pada segmen 13 dan 17. Cacing ini biasanya agak manja sehingga dalam pemeliharaannya diperlukan perhatian yang lebih serius. Cacing jenis Lumbricus Rubellus memiliki keunggulan lebih dibanding kedua jenis yang lain di atas, karena produktivitasnya tinggi (penambahan berat badan, produksi telur/anakan dan produksi bekas cacing “kascing”) serta tidak banyak bergerak

4.   MANFAAT

Dalam bidang pertanian, cacing menghancurkan bahan organik sehingga memperbaiki aerasi dan struktur tanah. Akibatnya lahan menjadi subur dan penyerapan nutrisi oleh tanaman menjadi baik. Keberadaan cacing tanah akan meningkatkan populasi mikroba yang menguntungkan tanaman. Selain itu juga cacing tanah dapat digunakan sebagai:
1.    Bahan Pakan Ternak
Berkat kandungan protein, lemak dan mineralnya yang tinggi, cacing tanah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti unggas, ikan, udang dan kodok.
2.    Bahan Baku Obat dan bahan ramuan untuk penyembuhan penyakit.
Secara tradisional cacing tanah dipercaya dapat meredakan demam, menurunkan tekanan darah, menyembuhkan bronchitis, reumatik sendi, sakit gigi dan tipus.
3.    Bahan Baku Kosmetik
Cacing dapat diolah untuk digunakan sebagai pelembab kulit dan bahan baku pembuatan lipstik.
4.    Makanan Manusia
Cacing merupakan sumber protein yang berpotensi untuk dimasukkan sebagai bahan makanan manusia seperti halnya daging sapi atau Ayam.

5.   PERSYARATAN LOKASI


1.    Tanah sebagai media hidup cacing harus mengandung bahan organik dalam jumlah yang besar.
2.    Bahan-bahan organik tanah dapat berasal dari serasah (daun yang gugur), kotoran ternak atau tanaman dan hewan yang mati. Cacing tanah menyukai bahan-bahan yang mudah membusuk karena lebih mudah dicerna oleh tubuhnya.
3.    Untuk pertumbuhan yang baik, cacing tanah memerlukan tanah yang sedikit asam sampai netral atau ph sekitar 6-7,2. Dengan kondisi ini, bakteri dalam tubuh cacing tanah dapat bekerja optimal untuk mengadakan pembusukan atau fermentasi.
4.    Kelembaban yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan cacing tanah adalah antara 15-30 %.
5.    Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan cacing tanah dan penetasan kokon adalah sekitar 15–25 derajat C atau suam-suam kuku. Suhu yang lebih tinggi dari 25 derajat C masih baik asal ada naungan yang cukup dan kelembaban optimal.
6.    Lokasi pemeliharaan cacing tanah diusahakan agar mudah penanganan dan pengawasannya serta tidak terkena sinar matahari secara langsung, misalnya di bawah pohon rindang, di tepi rumah atau di ruangan khusus (permanen) yang atapnya terbuat dari bahan-bahan yang tidak meneruskan sinar dan tidak menyimpan panas.

7.   PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA


1.    Penyiapan Sarana dan Peralatan
Pembuatan kandang sebaiknya menggunakan bahan-bahan yang murah dan mudah didapat seperti bambu, rumbia, papan bekas, ijuk dan genteng tanah liat. Salah satu contoh kandang permanen untuk peternakan skala besar adalah yang berukuran 1,5 x 18 m dengan tinggi 0,45 m. Didalamnya dibuat rak-rak bertingkat sebagai tempat wadah-wadah pemeliharaan. Bangunan kandang dapat pula tanpa dinding (bangunan terbuka). Model-model sistem budidaya, antara lain rak berbaki, kotak bertumpuk, pancing bertingkat atau pancing berjajar..
2.    Pembibitan
Persiapan yang diperlukan dalam pembudidayaan cacing tanah adalah meramu media tumbuh, menyediakan bibit unggul, mempersiapkan kandang cacing dan kandang pelindung.
1.    Pemilihan Bibit Calon Induk
Sebaiknya dalam beternak cacing tanah secara komersial digunakan bibit yang sudah ada karena diperlukan dalam jumlah yang besar. Namun bila akan dimulai dari skala kecil dapat pula dipakai bibit cacing tanah dari alam, yaitu dari tumpukan sampah yang membusuk atau dari tempat pembuangan kotoran hewan.
2.    Pemeliharaan Bibit Calon Induk
Pemeliharaan dapat dibagi menjadi beberapa cara:
1.    pemeliharaan cacing tanah sebanyak-banyaknya sesuai tempat yang digunakan. Cacing tanah dapat dipilih yang muda atau dewasa. Jika sarang berukuran tinggi sekitar 0,3 m, panjang 2,5 m dan lebar kurang lebih 1 m, dapat ditampung sekitar 10.000 ekor cacing tanah dewasa.
2.    pemeliharaan dimulai dengan jumlah kecil. Jika jumlahnya telah bertambah, sebagian cacing tanah dipindahkan ke bak lain.
3.    pemeliharaan kombinasi cara a dan b.
4.    pemeliharaan khusus kokon sampai anak, setelah dewasa di pindah ke bak lain.
5.    Pemeliharaan khusus cacing dewasa sebagai bibit.
3.    Sistem Pemuliabiakan
Apabila media pemeliharaan telah siap dan bibit cacing tanah sudah ada, maka penanaman dapat segera dilaksanakan dalam wadah pemeliharaan. Bibit cacing tanah yang ada tidaklah sekaligus dimasukan ke dalam media, tetapi harus dicoba sedikit demi sedikit. Beberapa bibit cacing tanah diletakan di atas media, kemudian diamati apakah bibit cacing itu masuk ke dalam media atau tidak. Jika terlihat masuk, baru bibit cacing yang lain dimasukkan. Setiap 3 jam sekali diamati, mungkin ada yang berkeliaran di atas media atau ada yang meninggalkan media (wadah). Apabila dalam waktu 12 jam tidak ada yang meninggalkan wadah berarti cacing tanah itu betah dan media sudah cocok. Sebaliknya bila media tidak cocok, cacing akan berkeliaran di permukaan media. Untuk mengatasinya, media harus segera diganti dengan yang baru. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara disiram dengan air, kemudian diperas hingga air perasannya terlihat berwarna bening (tidak berwarna hitam atau cokelat tua).
4.    Reproduksi, Perkawinan
Cacing tanah termasuk hewan hermaprodit, yaitu memiliki alat kelamin jantan dan betina dalam satu tubuh. Namun demikian, untuk pembuahan, tidak dapat dilakukannya sendiri. Dari perkawinan sepasang cacing tanah, masing-masing akan dihasilkan satu kokon yang berisi telur-telur. Kokon berbentuk lonjong dan berukuran sekitar 1/3 besar kepala korek api. Kokon ini diletakkan di tempat yang lembab. Dalam waktu 14-21 hari kokon akan menetas. Setiap kokon akan menghasilkan 2-20 ekor, rata-rata 4 ekor. Diperkirakan 100 ekor cacing dapat menghasilkan 100.000 cacing dalam waktu 1 tahun. Cacing tanah mulai dewasa setelah berumur 2-3 bulan yang ditandai dengan adanya gelang (klitelum) pada tubuh bagian depan. Selama 7-10 hari setelah perkawinan cacing dewasa akan dihasilkan 1 kokon.
3.    Pemeliharaan
1.    Pemberian Pakan
Cacing tanah diberi pakan sekali dalam sehari semalam sebanyak berat cacing tanah yang ditanam. Apabila yang ditanam 1 Kg, maka pakan yang harus diberikan juga harus 1 Kg. Secara umum pakan cacing tanah adalah berupa semua kotoran hewan, kecuali kotoran yang hanya dipakai sebagai media. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan pada cacing tanah, antara lain :

1.     
§  pakan yang diberikan harus dijadikan bubuk atau bubur dengan cara diblender.
§  bubur pakan ditaburkan rata di atas media, tetapi tidak menutupi seluruh permukaan media, sekitar 2-3 dari peti wadah tidak ditaburi pakan.
§  pakan ditutup dengan plastik, karung , atau bahan lain yang tidak tembus cahaya.
§  pemberian pakan berikutnya, apabila masih tersisa pakan terdahulu, harus diaduk dan jumlah pakan yang diberikan dikurangi.
§  bubur pakan yang akan diberikan pada cacing tanah mempunyai perbandingan air 1:1.
2.    Penggantian Media
Media yang sudah menjadi tanah/kascing atau yang telah banyak telur (kokon) harus diganti. Supaya cacing cepat berkembang, maka telur, anak dan induk dipisahkan dan ditumbuhkan pada media baru. Rata rata penggantian media dilakukan dalam jangka waktu 2 Minggu.
3.    Proses Kelahiran
Bahan untuk media pembuatan sarang adalah: kotoran hewan, dedaunan/Buah-buahan, batang pisang, limbah rumah tangga, limbah pasar, kertas koran/kardus/kayu lapuk/bubur kayu. Bahan yang tersedia terlebih dahulu dipotong sepanjang 2,5 Cm. Berbagai bahan, kecuali kotoran ternak, diaduk dan ditambah air kemudian diaduk kembali. Bahan campuran dan kotaran ternak dijadikan satu dengan persentase perbandingan 70:30 ditambah air secukupnya supaya tetap basah.

8.   HAMA DAN PENYAKIT

Keberhasilan beternak cacing tanah tidak terlepas dari pengendalian terhadap hama dan musuh cacing tanah. Beberapa hama dan musuh cacing tanah antara lain: semut, kumbang, burung, kelabang, lipan, lalat, tikus, katak, tupai, ayam, itik, ular, angsa, lintah, kutu dan lain-lain. Musuh yang juga ditakuti adalah semut merah yang memakan pakan cacing tanah yang mengandung karbohidrat dan lemak. Padahal kedua zat ini diperlukan untuk penggemukan cacing tanah. Pencegahan serangan semut merah dilakukan dengan cara disekitar wadah pemeliharaan (dirambang) diberi air cukup.

9.   PANEN

Dalam beternak cacing tanah ada dua hasil terpenting (utama) yang dapat diharapkan, yaitu biomas (cacing tanah itu sendiri) dan kascing (bekas cacing). Panen cacing dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah dengan mengunakan alat penerangan seperti lampu petromaks, lampu neon atau bohlam. Cacing tanah sangat sensitif terhadap cahaya sehingga mereka akan berkumpul di bagian atas media. Kemudian kita tinggal memisahkan cacing tanah itu dengan medianya. Ada cara panen yang lebih ekonomis dengan membalikan sarang. Dibalik sarang yang gelap ini cacing biasanya berkumpul dan cacing mudah terkumpul, kemudian sarang dibalik kembali dan pisahkan cacing yang tertinggal. Jika pada saat panen sudah terlihat adanya kokon (kumpulan telur), maka sarang dikembalikan pada wadah semula dan diberi pakan hingga sekitar 30 hari. Dalam jangka waktu itu, telur akan menetas. Dan cacing tanah dapat diambil untuk dipindahkan ke wadah pemeliharaan yang baru dan kascingnya siap di panen.

Artikel 2.

Usaha Ternak Cacing Tanah


Usaha ternak cacing tanah belum banyak yang tahu. Padahal usaha ini sebenarnya prospeknya bagus seperti halnya budidaya ikan lele, ikan nila, ikan gurame, ikan hias dan sebagainya. Bagi anda yang baru mendengar mungkin terasa jijik atau bertanya….cacing tanah kok dibudidayakan…untuk apa..?. Tahukah anda bahwa cacing tanah ternyata mempunyai potensi yang sangat menakjubkan bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia.
Berikut ini adalah beberapa manfaat cacing tanah :
1.     Bahan Pakan Ternak
Berkat kandungan protein, lemak dan mineralnya yang tinggi, cacing tanah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti unggas, ikan, udang dan kodok.
2.     Bahan Baku Obat dan bahan ramuan untuk penyembuhan penyakit.
Secara tradisional cacing tanah dipercaya dapat meredakan demam, menurunkan tekanan darah, menyembuhkan bronchitis, reumatik sendi, sakit gigi dan tipus.
3.     Bahan Baku Kosmetik
Cacing dapat diolah untuk digunakan sebagai pelembab kulit dan bahan baku pembuatan lipstik.
4.     Makanan Manusia
Cacing merupakan sumber protein yang berpotensi untuk dimasukkan sebagai bahan makanan manusia seperti halnya daging sapi atau Ayam.
5.     Menyuburkan Tanaman.
Dalam bidang pertanian, cacing menghancurkan bahan organik sehingga memperbaiki aerasi dan struktur tanah. Akibatnya lahan menjadi subur dan penyerapan nutrisi oleh tanaman menjadi baik. Keberadaan cacing tanah akan meningkatkan populasi mikroba yang menguntungkan tanaman.
Sementara untuk kesehatan cacing tanah mempunyai beberapa khasiat, diantaranya adalah :
Sembuhkan Typus
Menurunkan kadar kolesterol
Meningkatkan daya tahan tubuh
Menurunkan tekanan darah tinggi
Meningkatkan nafsu makan
Mengobati infeksi saluran pencernaan seperti typus, disentri, diare, serta gangguan perut lainnya seperti maag
Mengobati penyakit infeksi saluran pernapasan seperti: batuk, asma, influenza, bronchitis dan TBC
Mengurangi pegal-pegal akibat keletihan maupun akibat reumatik
Menurunkan kadar gula darah penderita diabetes
Mengobati wasir, exim, alergi, luka dan sakit gigi.

Usaha Ternak Cacing Tanah
Cacing tanah banyak sekali macamnya. Namun yang sering dibudidayakan adalah jenis Pheretima, Periony dan Lumbricus. Cacing tanah sebenarnya mudah di ternakkan, utamanya di tanah yang gembur dari kotoran hewan ternak.
Berikut ini adalah lokasi yang diperlukan dalam budidaya ternak cacing tanah :
1.      Tanah sebagai media hidup cacing harus mengandung bahan organik dalam jumlah yang besar.
2.      Bahan-bahan organik tanah dapat berasal dari serasah (daun yang gugur), kotoran ternak atau tanaman dan hewan yang mati. Cacing tanah menyukai bahan-bahan yang mudah membusuk karena lebih mudah dicerna oleh tubuhnya.
3.      Untuk pertumbuhan yang baik, cacing tanah memerlukan tanah yang sedikit asam sampai netral atau ph sekitar 6-7,2. Dengan kondisi ini, bakteri dalam tubuh cacing tanah dapat bekerja optimal untuk mengadakan pembusukan atau fermentasi.
4.      Kelembaban yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan cacing tanah adalah antara 15-30 %.
5.      Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan cacing tanah dan penetasan kokon adalah sekitar 15–25 derajat C atau suam-suam kuku. Suhu yang lebih tinggi dari 25 derajat C masih baik asal ada naungan yang cukup dan kelembaban optimal.
6.      Lokasi pemeliharaan cacing tanah diusahakan agar mudah penanganan dan pengawasannya serta tidak terkena sinar matahari secara langsung, misalnya di bawah pohon rindang, di tepi rumah atau di ruangan khusus (permanen) yang atapnya terbuat dari bahan-bahan yang tidak meneruskan sinar dan tidak menyimpan panas.
Dalam usaha ternak cacing tanah ada dua hasil terpenting (utama) yang dapat diharapkan, yaitu biomas (cacing tanah itu sendiri) dan kascing (bekas cacing). Melihat manfaat yang besar dari cacing tanah, pastilah sangat besar pula kebutuhan terhadap hewan ini. Oleh karena itu cacing tanah sangat prospektif untuk dibudidayakan.


Artikel 3.

Pakan Unggas dan Ikan

SELAIN diekstrak untuk keperluan pembuatan obat herbal, cacing tanah juga dapat diolah menjadi pakan unggas dan pakan ikan (pellet). Mengingat banyaknya peternak unggas dan pembudidaya ikan di Indonesia, pengolahan cacing menjadi bahan pakan ini memiliki prospek cerah.
Di samping kaya protein (50-72 %), cacing tanah juga mengandung beberapa asam amino yang sangat penting bagi unggas seperti arginin (10,7 %), tryptophan (4,4 %), dan tyrosin (2,25 %). Ketiga asam amino ini jarang ditemui pada bahan pakan lainnya.
Oleh karena itu, cacing tanah memiliki potensi baik untuk mengganti tepung ikan dalam ransum unggas dan dapat menghemat pemakaian bahan dari biji-bijian sampai 70 persen. Meski demikian, penggunaan cacing tanah dalam ransum unggas disarankan tidak lebih dari 20 % total ransum.
Pemanfaatan cacing tanah untuk ransum unggas relatif mudah. Bisa diberikan dalam bentuk segar, atau dijadikan tepung cacing untuk dicampurkan bersama bahan-bahan penyusun ransum unggas lainnya seperti jagung, dedak, konsentrat, dan sebagainya.
Pellet Ikan
Untuk membuat pellet ikan, bahan-bahan yang dipersiapkan adalah telur ayam yang telah direbus (diambil kuningnya saja), tepung kanji, terigu, dedak, dan tepung cacing. Semua bahan ditimbang, sesuai dengan analisis bahan. Sedangkan peralatan yang digunakan adalah alat penggiling tepung, alat penggiling daging, dan baskom.
Sebelumnya, kita mesti mengolah dulu cacing segar menjadi tepung. Caranya, cacing segar dipisahkan dari medianya, kemudian dicuci dan dibilas dengan air bersih, serta ditimbang.
Cacing ditebar di atas seng, kemudian dijemur di bawah terik matahari selama sehari. Jika sudah kering, cacing dapat dibuat menjadi tepung dengan menggunakan penggiling tepung. Tepung cacing ditimbang dan siap digunakan.
Jika ingin membuat pellet dengan kadar protein 35%, maka formula ransumnya terdiri atas tepung cacing (47 %), telur ayam (20 %), dedak (18 %), terigu (14 %), dan kanji (1 %). Campurkan semua bahan, kemudian diaduk hingga merata. Tambahkan air hangat secukupnya hingga adonan menjadi liat.
Tapi ingat, jangan terlalu banyak memberi air, karena dapat mengurangi daya simpannya.
Adonan yang sudah liar bisa dicetak dengan mesin penggiling daging, sehingga menghasilkan pellet basah yang panjangnya seperti mi. Pellet yang masih basah dipotong (misalnya sepanjang 0,5 cm) sehingga membentuk butiran-butiran.
Karena masih mengandung air, pellet dijemur dulu di bawah terik matahari, sampai kering sehingga dapat disimpan dalam waktu lama. Sekarang pellet sudah jadi dan siap digunakan. Kalau mau dijual, masukkan ke kantong plastik dengan bobot tertentu. (Dudung AM-32)
http://suaramerdeka.com


Artikel 4.

CACING TANAH UNTUK RANSUM TERNAK UNGGAS

·         duniaveteriner
·         07.12.09
·         Comments Off
·          
Harga pakan ternak memang relatif terus mengalami kenaikan. Metode cerdas untuk menyikapi hal ini perlu dilakukan oleh peternak. apalagi pakan unggas yang berprotein tinggi dan berasal dari hewan biasanya cukup mahal. Cacing tanah merupakan salah satu jawaban di dalam mengatasi kelangkaan masalah protein hewani untuk unggas. Cacing tanah (Lumbricus terrestris) merupakan cacing yang hidup di tanah. Di Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris, cacing tanah dapat hidup dan tersebar di seluruh pelosok nusantara. Peranan cacing tanah diketahui cukup banyak, terutama menjaga keseimbangan lingkungan karena terletak dalam satu lingkaran dengan manusia dan unggas.
Sementara pemanfaatannya belum sepenuhnya dilaksanakan, padahal cacing anah mempunyai berbagai manfaat yang dapat membantu untuk kesejahteraan manusia.
Di Kanada dan Amerika, cacing tanah sudah secara langsung dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, misalnya dipergunakan untuk karet tutup toples, sebagai umpan ikan, bahan baku pembuatan kosmetik dan lain-lain. memang teknologi di Indonesia kalah jauh dibanding dengan Kanada dan Amerika, namun pemanfaatannya dapat dimulai dari yang paling praktis dan sederhana. Barangkali hal inilah yang mesti dkembangkan lebih lanjut.
Bahan ransum unggas
Bahan makanan untuk unggas seperti ayam dan itik kebanyakan berasal dari hewan dan tumbuh-tumbuhan. Bahan yang berasal dari hewan biasanya cukup mahal. Masalah inilah yang sering membuat para ahli peternakan selalu berusaha mencari bahan pakan unggas yang berprotein tinggi asal hewan tapi harganya murah. Dalam kaitan ini Nyoman Brandi (1996) menyatakan, cacing tanah merupakan salah satu jawaban di dalam mengatasi kelangkaan masalah protein hewani untuk unggas. Hal ini mengingat cacing adalah binatang lunak yang kaya protein dan aroma khasnya sangat disukai oleh ayam dan itik.
Peternak itik di Indonesia umumnya belum menyadari sepenuhnya bahwa cacing tanah merupakan bahan makanan yang sangat baik, walaupun sudah sejak lama mereka berikan pada itik peliharaannya. Mereka hanya tahu cacing merupakan santapan yang paling digemari oleh itiknya. Sampai saat ini pemanfaatan cacing tanah hanya sepintas saja, padahal pemanfaatannya lebih jauh terutama cacing tanahyang diproses sedikit, akan cukup memberikan harapan dalam penyediaan protein bagi unggas untuk produksi dan reproduksi.

Dari hasil penelitian menunjukkan cacing tanah mempunyai kandungan protein cukup tinggi, yaitu sekitar 72%, yang dapat dikategorikan sebagai protein murni. Kalau dibandingkan dengan jenis bahan makanan asal hewan lainnya, misalnya ikan teri yang biasanya dipakai dalam campuran ransum unggas, mempunyai kandungan protein protein kasar berkisar antara 58-67% dan bekicot dengan kandungan protein 60,90%, masih jauh lebih rendah dibanding dengan cacing tanah. Apalagi kalau dibandingkan dengan sumber protein dari bahan tanaman, seperti bungkil kedele, bungkil kelapa dan lain-lain, rata-rata kandungan proteinnya jauh lebih rendah dibanding cacing tanah. Demikian pula susunan asam amino yang sangat penting bagi unggas, seperti arginin, tryptophan dan tyrosin yang sangat kurang dalam bahan pakan yang lain, pada cacing tanah kandungannya cukup tinggi. Kandungan arginin cacing tanah berkisar 10,7% tryptophan, 4,4% tyrosin, 2,25%.
Oleh karena itu cacing tanah mempunyai potensi yang cukup baik untuk mengganti tepung ikan dalam ransum unggas dan dapat menghemat pemakaian bahan dari biji-bijian sampai 70%.Walaupun demikian, penggunaan cacing tanah dalam ransum unggas disarankan tidak lebih dari 20% total ransum. Hal ini sudah sangat menguntungkan mengingat cacing tanah yang banyak tersebar di dataran nusantara kita dan potensinya cukup baik, serta sangat mudah untuk dibudidayakan sehingga dapat menekan biaya makanan unggas yang sangat tinggi dipasaran, sehingga keuntungan yang akan diraih lebih tinggi.

Disadur dari: www.poultryindonesia.com
sumber foto: http://www.iptek.net.id

Artikel 5.

Apa Itu Enzim Lumbrokinase?

Enzim Lumbrokinase adalah suatu enzim yang berasal dari cacing tanah jenis Lumbricus Rubellus. Untuk pertama kalinya yang bisa mengekstrak enzim ini adalah seorang Dokter dari Jepang, yaitu Dr. Hisasi Mihara. Dan beliau pulalah yang kemudian memberi nama Enzim Lumbrokinase sebagai penemunya pada tahun 1980.
Sejak zaman dahulu kala cacing tanah sudah banyak dan sering digunakan sebagai bahan pengobatan tradisional baik di Cina, Korea, Jepang bahkan di Indonesia. Namun penemun Dr. Hisasi Mihara pada tahun 1980 itu seolah semakin menguatkan akan keampuhan dari pada cacing Lumbricus Rubellus ini. Dan sejak itu enzim lumbrokinase atau cacing tanah lumbricus rubellus semakin terkenal dan diyakini dapat mengobati berbagai penyakit. di California, tidak lagi hanya sebagai obat tradisional tapi sudah menjadi bahan utama pengobatan modern.
Di Jepang dan Korea enzim umbrokinase ini sudah menjadi bahan baku utama untuk pembuatan suatu suplemen terpopuler disana, yang mana fungsinya untuk mendukung kesehatan darah.
Di Canada dan California pun tidak mau ketinggalan, disana enzim lumbrokinase sudah banyak diproduksi untuk mengobati penyakit yang berhubungan dengan kesehatan darah. Bahkan produknya sudah digunakan di berbagai rumah sakit besar di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Selain mengandung enzim Lumbrokinase, cacing lumbricus rubellus ini mengandung protein yang tinggi dibanding dengan protein yang ada dalam daging dan ikan, dan mengandung asam amino yang lengkap.
.
No
Asam amino
Cacing tanah
Daging
Ikan
1.
Arginin
4,13
3,48
3,909
scroll 0% 0%; width: 30pt; height: 13.9pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid -moz-use-text-color white white;" width="40" valign="top">
2.
Sistin
2,29
1,07
0,80
3.
ASam glutamat
-
-
3.40
4.
Glisin
2,92
2,09
4,40
5.
Histidin
1,56
0,97
4,40
6.
Isoleusin
2,58
1,33
1,50
7.
Leusin
4,84
3,54
3,60
8.
Lisin
4,33
3,08
5,10
9.
Methionin
2,18
1,45
6.40
10.
Fenilalanin
2,25
2,17
1,80
11.
Serin
2,88
2,15
2,60
12.
Threonin
2,95
1,77
-
13.
Triptopan
-
-
2,80
14.
Tirosin
1,36
1,29
1,80
15.
Valin
3,01
2,22
3,50
16.
Protein Kasar
61.00
51.00
60,00



Artikel 6.

1.    BUDIDAYA CACING TANAH

Banyak buku tentang budidaya cacing tanah yang mudah didapat dari toko buku seperti Gramedia atau Fajar Agung. Saya hanya merangkum secara praktis agar dapat dipraktekkan secara mudah.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Budidaya cacing tanah adalah:

1.1.        Persiapan pembuatan Rak Cacing

·         Rak Cacing dapat dibuat dari Bambu karena lebih ekonomis dan cukup kuat serta tahan dari suhu ekstrem seperti panas dan hujan.
·         Bentuk rak cacing dibuat vertikultur/bertingkat agar dapat mengoptimalkan lahan termasuk di lahan sempit seperti di halaman rumah/pekarangan belakang.
·         Rak harus terlindung dari panas dan hujan karena cacing sangat sensitive terhadap keduanya. Berikan atap atau peneduh seperti atap sirap, atap terpal atau atap geribik bamboo anyaman.
·         Rak Cacing juga harus terlindung dari Hama dan Predator cacing seperti Semut, orong-orong, tikus, ayam, burung, dll. Caranya dengan membuat dinding disekelilingnya dan di setiap tiang dibuat kolom air agar semut tidak dapat naik ke rak cacing.


Gambar: Rak Cacing dari Bambu dengan system Vertikultur


Gambar: Atap yang terbuat dari Terpal Plastik




Gambar: Kolom air yang berfungsi sebagai Pelindung hama



1.2.        Persiapan Media Cacing tanah

·         Media bisa dibuat dari Kotoran hewan (Kohe) sapi, kerbau atau kuda. Kalau kohe kambing harus dihancurkan dulu dan dimatangkan dengan baik karena gasnya tinggi (panas). Kohe ayam tidak baik untuk sarana ternak cacing tanah
·         Kohe Sapi, kerbau, kuda atau kambing biasanya sudah mengandung banyak telur cacing (cocon) karena hewan ini memakan rumput yang biasanya banyak cacing tanah meletakkan telurnya disitu.
·         Campurkan kohe dengan jerami padi atau serbuk gergaji dan batang pisang dengan komposisi 1:1:1.
·         Untuk menghindari hama atau predator yang masih terbawa di kohe tersebut, rendam media tersebut dengan air selama 3 hari. Atau bakar media tersebut/gongseng di kuali sehingga semut, orong-orong, dll tidak lagi ditemukan di media. Hanya cara ini mengandung resiko kita kehilangan juga cocon cacing tanah yang sudah ada di media. Silahkan pilih cara terbaik.
·         Matangkan media selama 1,5 bulan di rak cacing yang sudah disiapkan sebelumnya.
·         Masukkan bibit cacing tanah atau cocon (telur) cacing ke dalam media.
·         Setiap ukuran media 50cm x 100 cm dapat diisi 0,5kg bibit cacing
·         Wadah media bisa dari kotak plastic bekas buah, karung bekas yang dilebarkan atau terpal plastic yang seperti gambar di bawah.
·         Bolak-balik media 3 hari sekali berbarengan saat memberi makan cacing


Gambar: Cacing Lumbricus Rubellus

1.3.        Pakan Cacing Tanah

·         Pakan cacing tanah sangat mudah dan praktis didapat seperti limbah sayur-mayur yang dibusukkan atau limbah buah-buahan.
·         Bisa juga menggunakan dedak padi, dedak jagung halus, pelet berkadar protein rendah. Bisa juga dari limbah rumah tangga seperti sisa nasi, dll.
·         Cacing tanah mengurai makanannya sama dengan berat bobot tubuhnya/hari.
·         Artinya, 1kg bibit cacing akan menghabiskan makanan seberat 1kg juga dalam 1x24 jam.

1.4.        Manfaat Cacing Tanah

Sangat banyak manfaat cacing tanah. Bisa sebagai Pakan Ikan, Obat-obatan, kosmetik, pengurai pupuk organic, dll. Namun dalam hal ini kita membahas penggunaan cacing tanah hanya sebatas pakan alami saja. Silahkan jika cacing tanah sudah banyak jika ingin dijual kembali sebagai bibit atau sebagai pakan. Lipstik atau Larutan Pereda panas dalam adalah salah satu produk yang berbahan dasar cacing tanah J


1.5.        Hitungan Biaya Pembuatan Sarana Budidaya Cacing Tanah

Untuk membuat 1 rak cacing ukuran 1mtr x 2mtr seperti yang saya buat dan ada di gambar adalah sbb:

·         Bambu 10 batang @ Rp 5.000,-/batang. Masing-masing daerah berbeda harga. Bambu ini sudah termasuk membuat rak cacing dan tandu untuk media cacing tanahnya ukuran 50cm x 100cm sebanyak 12 tandu. 1 tingkatan rak isi 4 tandu sehingga dalam 1 rak cacing berisi 12 tandu.
·         Terpal plastic utk tandu cacing lebarnya 1mtr x 1,5mtr. Dijahit dengan benang nilon agar kuat. Kalau saya beli terpal plastic secara grosiran. Harganya Rp 3.500/meter.

Sehingga didapat rincian biaya sbb:

·         10 batang bamboo @ Rp 5.000,-                                   =  Rp    50.000,-
·         Terpal tandu media 12 tandu x 1,5mtr2 x Rp 3.500     =  Rp     63.000,-
·         Atap terpal 10mtr2 x Rp 3.500                                     =  Rp     35.000,-
·         Dinding rak cacing 4 sisi x 5mtr2 x Rp 3.500,-              =  Rp     70.000,-
·         Total biaya Rak cacing seluas 1mtr x 2mtr                   =  Rp    218.000,-

Sangat murah bukan?

·         Catatan: 1 tandu berisi 15kg media bisa diisi bibit cacing 0,5kg dan bila dipelihara selama 4 bulan bisa menghasilkan 5kg – 7,5kg cacing tanah berikut cocon/telur cacing yang siap menetas dan dapat dikembangbiakan kembali.

1.6.        Manfaat Kascing

Kascing adalah Hasil ikutan apabila kita melakukan budidaya Cacing tanah. Kascing adalah Media Tanah bekas ternak cacing. Kascing sangat baik untuk dijadikan Pupuk Organik alami sebagai pengganti Pupuk kimia. Kascing bersifat Slow Release tetapi untuk keperluan jangka panjang, kascing memberikan banyak keunggulan dibanding pupuk kimia.

Selain sebagai pupuk perkebunan dan pertanian, kascing juga ternyata sangat baik digunakan sebagai Planter kolam untuk budidaya ikan atau udang.
Karena unsure hara yang komplit kascing memberikan efek hasil yang baik buat perkembangan kesehatan ikan dan percepatan pertumbuhan ikan.
Kasing juga mampu mengendalikan PH Air secara alami dan memproduksi pakan alami secara baik.


==============================


Artikel 7.


PEMBUATAN PAKAN IKAN


LATAR BELAKANG

Cacing tanah merupakan hewan yang berpotensi menjadi bahan makanan.sumber protein tinggi. Budidaya cacing tanah relatif mudah, efisien dan murah, dimana untuk membudidayakan cacing ini hanya dibutuhkan suatu media berupa kompos (dalam kehidupan sehari-hari digunakan untuk menguraikan sarnpah organik).
Kotak untuk pemeliharaan cacing



Sisa dan media ini selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk pupuk tanaman, karena penguraian sampah organik oleh cacing tanah banyak menghasilkan unsur hara yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman. Bekaitan dengan potensi cacing tanah sebagai bahan makanan sumber protein tinggi, pemanfaatannya sangat beragam seperti:

* a. Untuk bahan campuran kosmetika.
* b. Sebagai makanan suplemen kesehatan.
* c. Bahan obat-obatan terutamayang menyangkut dengan anti biotik.
* d. Sebagai pakan ternak.


Komposisi nutrisi Lumbricus rubelius adalah sebagai berikut:

* Protein Kasar : 60 - 72%
* Lemak : 7 - 10%
* Abu : 8 - 10%
* Energi :900 - 4100 kalori/gram.

Dengan memperhatikan komposisi nutrisinya, maka di dunia perikanan,cacing tanah ini berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan ransum makanan ikan.
Cacing segar siap untuk dipanen Cacing segar siap untuk dipanen

Seperti diketahui bahwa untuk pertumbuhan ikan, sangat ditentukan oleh kandungan protein dalam makanannya. Mengingat kandungan protein cacing yang cukup tinggi (lebih tinggi dari ikan dan daging) serta komposisi asam amino esensial yang lengkap sehingga, dapat diperkirakan bila cacing tanah ini dapat dimakan oleh ikan akan diapat memacu pertumbuhan dan menghasilkan ikanyang sehat serta tahan terhadap serangan penyakit.
Adonan cacing yang siap digiling Adonan cacing yang siap digiling

ALAT, BAHAN, DAN METODE

Peralatan yang digunakan adalah:

* Alat Penggiling Tepung
* Alat Penggiling Daging
* Baskom

Adonan cacing yang siap dipotong-potong Adonan cacing yang siap dipotong-potong

Untuk membuat tepung cacing, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

Bahan:

* a. Tepung Cacing : 41%
* b. Telur ayam : 20%
* c. Terigu : 14%
* d. Dedak : 18 %
* e. Kanji :1%

* 1. Cacing segar dipisahkan dari medianya.
* 2. Cacing segar ini di cuci/bilas dengan air berslh, lalu ditimbang.
* 3. Cacing segar dijemur oleh panas matahari di atas seng dalam 24 jam (suhu udara 32 - 35 derajat celcius).
* 4. Cacing yang sudah kering kemdian dibuat menjadi tepung dengan menggunakan penggiling tepung.
* 5. Tepung cacing ditimbang dan siap untuk digunakan.

Pelet ikan yang sudah jadi Pelet ikan yang sudah jadi

Untuk menjadikan pelet, bahan-bahan yang dipersiapkan adalah kuning telur ayam yang telah direbus, tepung kanji, terigu, dedak, tepung cacing, masing-masing ditimbang sesuai dengan analisis bahan. Langkah-langkah pembuatannya sebagai berikut :

* Semua bahan dicampur dan diaduk menjadi satu.
* Tambahkan air hangat secukupnya hingga adonan menjadi cukup kenyal. Penggunaan air harap diperhatikan seminim mungkin penggunaannya.
* Setelah adonan terbentuk selanjutnya dicetak dengan mesin penggiling daging sehingga menghasilkan pelet basah yang panjangnya seperti mie.
* Pelet basah tersebut dipotong per 0,5 cm membentuk butiran-butiran.
* Setelah itu pelet dijemur di panas matahari seharian.
* Kemudian pelet ditimbang dan siap digunakan

Untuk memperoleh pelet dengan kandungan protein 35%, maka susunan ransumnya adalah:
(% Berat)
Tepung Cacing 47
Telur Ayam 20
Terigu 14
Dedak 18
Kanji 1

(RAD)

Sumber: Dinas Perikanan Propinsi DKI Jakarta, Brosur Informasi Proyek Peningkatan Diversifikasi Usaha Perikanan



===========================================================

Artikel 8.




Jasa Mikroba dan Cacing

Posted: 12 April 2011 by ruryklh in Terkini
Lactobacilli. Foto: hubpages.com
Lactobacilli. Foto: hubpages.com
Kalau dalam kasus kesehatan ada masalah susu berbakterisakazakii yang bisa menyebabkan radang selaput otak pada anak balita. Atau kasus cacingan pada sebagian masyarakat urban yang sanitasinya buruk dan kotor. Tetapi dalam kasus lingkungan Mikroba semacam bakteri jamur dan juga cacing bisa berkata lain.
Mikroba dan cacing mahluk yang sama-sama berjasa dalam proses penguraian sampah.
Tahukah anda bahwa mikroba –mahluk tak kasat mata– dan cacing sangat berjasa dalam proses perfermentasi, dalam pembuatan pupuk organic? Kedua jenis mahluk ini tak kasat mata, kecil, imut, mengelikan dan beberapa orang menilai menjijikan.
Cacing sudah sejak lama dikenal sebagai mahluk yang hidup di tanah/daratan  yang bertugas untuk menyuburkan tanah, begitu juga pada beberapa jenis microba atau bakteri yang baik berguna bagi manusia. Baik, dikonsumsi langsung seperti Lactobacilli (dalam susu bervermentasi), maupun untuk membantu proses Fermentasi atau peragian pada beberapa produk makanan.

Yang paling penting, jasa kedua mahluk ini sama-sama bisa mengurai sampah organik menjadi lebih bermanfaat. Sebut saja pupuk Bokashi, pupuk kompos yang dihasilkan dari proses fermentasi atau peragian bahan organik dengan teknologi EM4 (Effective Microorganisms 4). EM4 sendiri mengandung Azobacter sp., Lactobacillus sp., ragi, bakteri fotosintetik dan jamur pengurai selulosa.  EM4 ini sangat mudah didapatkan di tempat-tempat penjual pupuk-pupuk organik. Fungsi EM4 ini bertugas sebagai starter bersama-sama starter tambahan lainnya seperti dedak dan serbuk gergaji. Keduanya diolah pada media sampah organik yang akan dibuat pupuk organik.
Tetapi bukan itu saja, jika engan mencari starter EM4 yang sudah jadi, bisa juga membuat starter sendiri dan dapatdiikokulasi dari material sederhana seperti kotoran hewan, jamur, spora, cacing ragi, acar, sake, miso, natto, anggur bahkan bir sepanjang material tersebut mengandung organisme yang mampu melakukan proses pengomposan. Dan bahan tambahan selain starter adalah jerami, rumput, tanaman kacangan, sekam, pupuk kandang atau serbuk gergaji. Namun bahan campuran starter yang paling baik dalam pembuatan bokashi adalah dedak karena mengandung zat gizi yang sangat baik untuk mikroorganisme.
Dalam proses pengomposan sampah rumah tangga, sampah dapur hanya memakan waktu 10-14 hari pupuk kompos sudah dapat di “panen”.
pupuk cacing
Pupuk cacing. Foto: Wikipedia
Begitu juga dengan kompos cacing atau biasa disebutvermicompost adalah pupuk yang berasal dari kotoran cacing (vermics). Pupuk ini dibuat dengan memelihara cacing dalam tumpukan sampah organik hingga cacing tersebut berkembang biak di dalamnya dan menguraikan sampah organik dan menghasilkan kotoran. Proses pembuatannya kompos jenis ini tidak berbeda dengan pembuatan kompos pada umumnya; yang membedakan hanya starternya yang berupa cacing.
Kompos cacing dapat menyuburkan tanaman karena cacing memiliki bentuk dan struktur yang mirip dengan tanah namun ukuran partikel-partikelnya lebih kecil dan lebih kaya akan bahan organik sehingga memiliki tingkat aerasi yang tinggi dan cocok untuk dijadikan media tanaman. Kompos cacing memiliki kandungan nutrisi yang hampir sama dengan bahan organik yang diurainya.
Spesies cacing yang umum digunakan dalam proses ini diataranyaEisenia foetida, Eisenia hortensis, dan Perionyx excavatus, namun cacing biasa (Lumbricus terestris) juga dapat digunakan.
Cacing untuk Kesehatan.
Lumbricus rubellus. Foto:http://www.ceklik.com
Lumbricus rubellus. Foto:http://www.ceklik.com
Dalam bidang kesehatan-pun rupanya orang dibuat terbelalak dengan kandungan protein dari cacing. Cacing sangat baik untuk di racik menjadi beberapa bentuk obat. Sebut saja cacing jenis Lumbricus rubellus (lebih dikenal dengan cacing eropa), Pheretima aspergillum (cacing gelang),  Selain mengandung Protein tinggi (58% hingga 78%) atau lebih tinggi dari protein daging dan telur, cacing tanah juga mengandung zat aktif berupa enzym, terdiri dari a. Enzym lumbrokinase (mengembalikan & menstabilkan fungsi darah).b. Enzym Peroksidase katalase (memperlambat penuaan) c. Enzym selulosa lignase (mengembalikan & menstabilkan fungsi pencernakan). d. Asam arakidonat (mempercepat pembentukkan sel-sel baru). e. αE tocoferol (mempertahankan elatisitas & keremajaan kulit). f. Taurine(mempercepat metabolisme lemak untuk menambah energi). g. Nutrisi : lemak tidak jenuh ganda, kalsium, fosfor, serat.
Sebagai makanan obat, seperti untuk penyakit Typus, Demam, Jantung dan stroke karena trombosis, Reumatik, Hipertensi, Wasir, Kencing manis, untuk kecantikkan kulit dan pertumbuhan rambut dll. Budidaya cacing banyak di dapatkan di daerah Lumajang dan Nganjuk  Jawa Timur. Beberapa ahli telah membuktikannya baik untuk kesehatan dan  baik dikonsumsi bukan lagi mitos belaka.
Rupanya didunia proses siklus kehidupan telah diatur sedemikian rupa. Peran mikroba seperti bakteri dan cacing yang kecil bentuknya tetapi besar manfaatnya yang bahkan tidak tampak dengan mata telanjang rupanya banyak berjasa bagi kehidupan. Permasalahannya sekarang bagaimana kita yang mau melakukan proses alam menuju kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan. Padahal alam telah memberi pelajaran kepada kita, akhirnya dikembalikan kepada pembaca — alam berkembang jadi guru. Itulah berkah alam tinggal kita saja mau memelihara  keanekaragaman hayati yang ada di sekitar kita. (berbagai sumber)
Mashuri Alif
Tulisan ini pernah diterbitkan dalam Majalah Serasi Edisi 02 – 2011 dengan judul “Mengurai Jasa Cacing dan Mikroba”





CATATAN : LIHAT JUGA ARTIKEL PEMBUATAN PAKAN ALAMI DI BLOG INI.

0 komentar:

Poskan Komentar