Jumat, 30 September 2011

PAKAN BERGIZI DARI LIMBAH TERNAK


Artikel 1.


Peluang Usaha Budi Daya Ikan Lele Organik



Budidaya Ikan Lele
Peluang usaha budidaya ikan lele masih terbuka lebar bagi anda yang berminat menekuninya, banyak yang sudah sukses dalam usaha budidaya ikan lelke, akan tetapi tidak sedikit pula yang gulung tikar karena harga pakan yang mahal.
Tapi ada cara lain untuk budidaya ikan lele yang lebih hemat biaya, yaitu dengan menggunakan “ kotoran Sapi “ sebagai pakan. Cara ini ternyata sangat baik untuk pertumbuhan ikan lele dan rasanya pun lebih gurih daripada ikan lele yang diberi pakan sentrat.
Cara ini sangat populer di daerah Banyuwangi Jawa Timur. Dengan memberi pakan ikan lele secara Organik maka seakan lele hidup di alam bebas, dimana hidupnya dari makan bahan2 organik.
Tentu ini sangat baik jika anda barengi dengan ternak Sapi. Sebab anda bisa menggunakan kotorannya sebagai pakan ikan lele anda. Namun anda juga bias mencarinya di sekitar anda.
Hasil panen dari Budidaya ikan lele Organik dengan ikan lele non organik sangatlah berbeda. Ikan lele organic hasilnya bisa lebih panjang   20 – 35 cm. Warnanya juga berbeda, ikan lele organic biasanya warnanya agak kemerah-merahan terutama di bagian sirip dan insang. Sedangkan ikan lele non organic warnanya agak kehitam-hitaman.
Keuletan dan kesabaran sangat di butuhkan dalam budidaya ikan lele organic. Sebab akan melalui beberapa proses.
Pertama, adalah penebaran benih lele pada kolam berisi air dan kotoran sapi yang telah dikomposing selama satu bulan. Kotoran sapi tersebut ditempatkan dalam tiga karung goni tertutup. Bila benih berusia dua minggu, kemudian dilakukan seleksi untuk benih yang berukuran 4-5 milimeter.
Benih tersebut dipisahkan di kolam berikutnya selama dua minggu hingga benih berdiameter 10 milimeter. Dua minggu berikutnya, lele diseleksi untuk yang berukuran 20 milimeter. Sejak benih lele berdiameter 10 milimeter itu, kolam yang berisi air dicampur langsung dengan pupuk organik dari kotoran sapi hingga setinggi 20 centimeter.
Dari cara ini, kotoran sapi akan menghasilkan banyak plankton yang menjadi makanan utama lele. Lele organik, baru siap dipanen saat usianya delapan minggu. Keuntungan lainnya, air di dalam kolam lele tidak menghasilkan bau busuk seperti halnya lele non organik. Sehingga ia tak perlu repot mengganti air dalam kolam. “Menghemat biaya dan tenaga “.
Ikan Lele masih menjadi makanan favorit di masyarakat. Namun kebanyakan yang beredar, mengandung residu akibat pemakaian bahan kimia yang tinggi. “Berbeda, kalau organik sudah bebas zat kimia”. Sementara ditilik dari segi gizi, Ikan lele organik tingkat kolestorelnya lebih rendah karena mengandung asam lemak tak jenuh.
Semoga Bermanfaat.

============================================

Artikel 2.


Ikan yang berkumis dan licin serta gesit (ikan lele), banyak menarik perhatian banyak orang untuk membudidayakannya. Saat ini stok lele sangat jauh dari mencukupi, permintaan pasar akan ikan lele sangat banyak sedang produksi lele masih kurang. Sudah banyak yang berkolam ikan lele tetapi banyak di antara mereka yang berguguran, sehingga ikan lele di pasar masih terus kekurangan. 

Tentu banyak faktor penyebab banyaknya pengolam yang berguguran. Di antaranya, kurangnya pengetahuan akan teknik berkolam lele, tidak bisa membuat pakan alternatif sederhana untuk ikan lele, terlalu tergantung dari pakan ikan pabrik yang harganya tinggi, tidak bisa memanfaatkan potensi alam sekitar yang sangat banyak untuk meningkatkan produksi ikan lele dengan meminimkan ketergantungan pakan pabrik dan digantikan dengan pakan yang ada di sekitar lingkungan.

Salah satu cara untuk meningkatkan income dari kolam lele adalah dengan memanfaatkan limbah ternak lain seperti kambing, sapi dan ayam. Tentu ini diperlukan sedikit ilmu bagaimana teknik agar limbah ternak itu bisa digunakan sebagai pakan ikan lele.

Untuk membuat pakan ikan lele dari limbah ternak dan teknik pemberiannya dengan memanfaatkan bakteri tertentu yang biasa disebut sebagai bakteri probiotik. Bakteri Probiotik ini digunakan untuk mengolah kotoran ternak sehingga terjadi proses fermentasi dimana dalam proses ini akan mengakibatkan panas yang akan membunuh bakteri lain yang tidak berguna sehingga limbah ternak tersebut aman untuk dikonsumsi ikan lele.

Teknik pemberiannya adalah dengan memasukkan limbah hasil fermentasi ke dalam kolam setelah ikan berumur 20 hari serta diberikan sebagai tambahan sewaktu memberi makan ikan. Maksudnya sewaktu memberi makanan ikan dengan pelet (pakan pabrik) kemudian diikuti dengan pakan limbah ternak hasil fermentasi. Maka ikan lele akan tumbuh lebih cepat, sehat dan daging ikan lele lebih padat sehingga rasa ikan lele seperti ikan lele sungai. Dengan teknik ini untuk satu kolam isi 10.000 ikan cukup diberikan 10 sak pakan pelet sampai panen, tentu ini sangat membantu meminimalkan penggunaan pakan pabrik, dan income akan jauh meningkat. Selain itu Anda bisa menghemat penggunaan air.


Rumen Sapi
Isi rumen merupakan salah satu limbah rumah potong hewan yang belum dimanfaatkan secara optimal bahkan ada yang dibuang begitu saja sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan. Limbah ini sebenarnya sangat potensial bila dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak karena isi rumen disamping merupakan bahan pakan yang belum tercerna juga terdapat organisme rumen yang merupakan sumber vitamin B.

Kandungan zat makanan yang terdapat pada isi rumen sapi meliputi: air (8,8%), protein kasar (9,63%), lemak (1,81%), serat kasar (24,60%), BETN (38,40%), Abu (16,76%), kalsium (1,22%) dan posfor (0,29%) dan pada domba meliputi: air (8,28%), protein kasar (14,41%), lemak (3,59%), serat kasar (24,38%), Abu (16,37%), kalsium (0,68%) dan posfor (1,08%) (Suhermiyati, 1984). Widodo (2002) menyatakan zat makanan yang terkandung dalam rumen meliputi protein sebesar 8,86%, lemak 2,60%, serat kasar 28,78%, fosfor 0,55%, abu 18,54% dan air 10,92%. Berdasarkan komposisi zat yang terkandung didalamnya maka isi rumen dalam batas tertentu tidak akan menimbulkan akibat yang merugikan bila dijadikan bahan pencampur ransum berbagai ternak.

Di dalam rumen ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan domba) terdapat populasi mikroba yang cukup banyak jumlahnya. Cairan rumen mengandung bakteri dan protozoa. Konsentrasi bakteri sekitar 10 pangkat 9 setiap cc isi rumen, sedangkan protozoa bervariasi sekitar 10 pangkat 5 - 10 pangkat 6 setiap cc isi rumen (Tillman, 1991). Beberapa jenis bakteri/mikroba yang terdapat dalam isi rumen adalah (a) bakteri/mikroba lipolitik, (b) bakteri/mikroba pembentuk asam, (c) bakteri/mikroba amilolitik, (d) bakteri/mikroba selulolitik, (e) bakteri/mikroba proteolitik Sutrisno dkk, 1994)

Jumlah mikroba di dalam isi rumen sapi bervariasi meliputi: mikroba proteolitik 2,5 x 10 pangkat 9 sel/gram isi rumen, mikroba selulolitik 8,1 x 10 pangkat 4 sel/gram isi rumen, amilolitik 4,9 x 10 pangkat 9 sel/gram isi, mikroba pembentuk asam 5,6 x 10 pangkat 9 sel/gram isi, mikroba lipolitik 2,1 x 10 pangkat 10 sel/gram isi dan fungi lipolitik 1,7 x 10 pangkat 3 sel/gram isi (Sutrisno dkk, 1994). Mikroorganisme tersebut mencerna pati, gula, lemak, protein dan nitrogen bukan proein untuk membentuk mikrobial dan vitamin B.
Berdasarkan hasil penelitian Sanjaya (1995), penggunaan isi rumen sapi sampai 12% mampu meningkatkan pertambahan bobot badan dan konsumsi pakan ayam pedaging dan mampu menekan konversi pakan ayam pedaging

ABOUT THE AUTHOR
YUDI : Seorang Manusia yang selalu ingin menjadi lebih baik

========================================================

Artikel 3.

REVOLUSI HIJAU KEDUA

Diringkas oleh FIRMANSYAH
NIM:41610010002
TEKNIK INDUSTRI UMB
REVOLUSI HIJAU KEDUA
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menyebutkan bahwa kebutuhan
beras secara global pada tahun 2025 akan mencapai 800 juta ton. Namun
kemampuan produksi kurang dari 600 juta ton. Kenyataan ini disadari sebagai
sebuah jurang antara produksi dan konsumsi yang harus diatasi. Cara pengatasan
yang dilontarkan adalah peningkatan produksi beras dengan penerapan Revolusi
Hijau Kedua. (G. Kriswanta, 2006).
Kalau benar revolusi hijau kedua akan dapat mengatasi persoalan, tentu
penerapannya harus lebih super hati-hati dan bijaksana. Jangan sampai justru
semakin menambah keterpurukan petani masuk ke dalam jurang kemiskinan
yang lebih akut. Pada tahun 2005 saja terdapat 38 juta atau 16% dari penduduk
Indonesia yang miskin dan 68% dari 38 juta orang miskin ada pada sektor
pertanian. Maka pada tahun 2006 ini masih dapat dikatakan secara umum bahwa
orang miskin di Indonesia adalah petani.
Bahaya Revolusi Kedua
Kemiskinan petani merupakan akibat dari serentetan peristiwa pada zaman Orde
Baru dengan adanya program swasembada pangan melalui penerapan teknologi
baru yang disebut Revolusi Hijau (RH). Swasembada pangan dimaksudkan agar
petani mampu menyediakan keragaman jenis bahan makanan (diversifikasi pangan).
Akan tetapi, dalam praktiknya swasembada pangan menjadi swasembada beras, dan
keragaman menjadi keseragaman. Peningkatan hasil padi dapat diraih dengan
menanam jenis padi bibit unggul hasil teknologi RH. Salah satu jenisnya adalah IR
(Institute Rice), yang merupakan hasil persilangan antara padi berumur pendek dan
berperanakan banyak, sehingga jenis IR bisa menghasilkan padi berlipat ganda
hanya dalam jangka waktu 3 bulan.
Kembali ke Pertanian Organik
Persoalan pokok mengapa pertanian ditinggalkan terletak pada daya tarik
penghargaan jerih payah petani. Seharusnya petani Indonesia itu kaya kalau
pemerintah bisa menentukan standar harga nasional untuk semua jenis hasil
pertanian baik sayur-mayur, kedelai, kacang tanah, padi, maupun hasil pertanian
lainnya. Dengan harga yang pasti dan seimbang dengan produk pada sektor lain,
para petani bisa memperkirakan pendapatannya sehingga bisa memperkirakan juga
uang tabungan serta kepentingan lain seperti kesehatan. Penghargaan terhadap
hasil bumi terutama hasil pertanian akan menjadikan para petani bangga akan hasil
panennya, mereka juga tidak akan mengalami kesulitan mencari generasi petani.
Para petani pun tidak akan merasa malu dengan harga dirinya sebagai petani,
karena konsumen akan menghargai jerih payah petani sebagaimana mestinya.
Selain sistem pertanian organik dikenal pula sistem pertanian terpadu. Terdapat
dua model sistem pertanian terpadu (integrated agriculture management), yaitu
semua pertanian terpadu konversional dna sistem pertanian terpadu dengan
teknologi EM (effective micro organisme). Sistem pertanian terpadu
konvensional misalnya tumpang sari antara peternakan ayam dan balong ikan
(longyam) dimana kotoran ayam yang terbuang dimanfaatkan sebagai pakan ikan,
atau tumpang sari antara tanaman palawijaya dan peternakan, dimana sisa-sisa
tanaman digunakan sebagai pakan ternak kambing atau sapi dan kotoran ternak
digunakan sebagai pupuk kandang bagi pertanaman berikutnya. Praktek-praktek
pertanian terpadu konvesional ini belum tentu merupakan siklus yang
berkelanjutan, karena hanya mengandalkan proses dekomposisi biomassa
alamiah yang berlangsung sangat lambat. Oleh karena itu, diperlukan sentuhan
teknologi yang mampu mempercepat proses pembusukan dan penguraian
bahan-bahan organik menjadi unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman atau
hewan. Konsep pertanian lainnya yang memperhatikan sistem pengelolaan
lingkungan berkelanjutan ialah sistem pertanian masukan luar rendah. Dalam
hal ini pemanfaatan input luar dilakukan hanya bila diperlukan untuk melengkapi
unsur-unsur yang kurang dalam agroekosistem dan meningkatkan sumberdaya
biologi, fisik dan manusia. Dalam pemanfaatan input luar, perhatian utama
diberikan pada mekanisme daur ulang dan minimilisasi kerusakan lingkungan.

=============================================

Artikel 4.



Pakan Bergizi dari Limbah Ternak


Pemanfaatan kotoran sapi bukan lagi terbatas untuk pupuk. Dengan modifikasi makanan sapi, kotoran yang dihasilkan bisa jadi bah.an baku pakan ikan dan unggas.
Ferdinand
SELAIN sebagai pupuk, kotoran sapi nyatanya bisa pula dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat pakan ikan dan unggas. Yang satu ini boleh jadi belum banyak yang tahu, karena memang masih terbilang baru.
Itulah yang kini sedang dikembangkan Soelaiman Budi Sunarto, pendiri usaha rekayasa teknologi pertanian, Agromak-mur, di Desa Doplang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Ide tersebut muncul empat bulan lalu, berawal dari keinginannya untuk meningkatkan nilai ekonomis kotoran sapi. Kebetulan, Soelaiman memiliki tiga sapi.
Selama ini, kotoran binatang itu digunakan sebagai bahan membuat biogas dan ampasnya dijadikan pupuk.
Namun, sejak dirinya beralih menggunakan sekam padi yang nilai jual pupuk organiknya lebih tinggi, kotoran sapi itu menjadi kurang termanfaatkan.
Padahal dalam sehari, satu ekor sapi bisa menghasilkan 20 kilogram kotoran. Kalau nga ekor sapi, berarti setiap harinya ada 60 kilogram kotoran yang menumpuk di kandang.
"Setelah berhari-hari berpikir, muncul ide dijadikan pakan ikan saja. Apalagi harga pakan yang dihasilkan pabrik terbilang mahal," katanya saat ditemui di tempat usahanya yang berhawa sejuk, Selasa (22/2).
Ide tersebut segera direalisasikan. Kotoran sapi mulai dikumpulkan. Namun, tidak sembarangan. Kotoran yangv-. ,fi -,
digunakan harus yang padat dan tidak berbau. "Kalau tidak padat, tidak bisa mengapung, sedangkan kalau masih bau kotoran, ikan tidak mau," ujar pria yang meraih penghargaan inovator bergengsi dari Menteri Negara Riset dan Teknologi 2009 itu.
Untuk menghasilkan kotoran seperti itu, memang harus dilakukan perubahan sumber makanan. Sapi diberi pakan jerami yang telah dikeringkan selama satu minggu. Selain itu, diberi minum hanya dua kali sehari, masing-masing satu ember dengan campuran bakteri pengurai yang diambil dari rumen (perut besar sapi).
Bakteri pengurai itu bisa diambil dari rumen sapi yangtelah mati dari rumah pemotongan atau dari sapi yang masih hidup. Untuk cara yang kedua ini, perut sapi dilubangi atau dibuatkan fistula.
Cara kedua itulah yang digunakan Soelaiman. Selain bakteri pengurai bisa diambil setiap saat, sapi yang digunakan tetap hidup secara normal. Setiap hari, Soelaiman mengambilsepertiga isi rumen. Jumlah tersebut dapat menghasilkan tiga liter air yang mengandung jutaan bakteri.
Kotoran sapi itu kemudian dikeringkan dan dicampur dengan sumber nutrisi tambahan, seperti bekatul atau kulit ari beras, tetes tebu atau air kelapa, ikan asin, serta tepung tapioka.
Soelaiman telah menggunakan pakan kotoran sapi ini untuk usaha perikanannya sendiri. Ikan-ikan lele yang berada di kolam miliknya dikatakan lebih cepat besar ketimbang ikan yang diberi pakan buatan pabrik.
Jika menggunakan pakan produksi pabrik, membutuhkan waktu paling tidak tigahingga empat bulan. Kini, Soelaiman hanya butuh dua bulan untuk mencapai panen.
Digabungkan dengan biogas
Soelaiman mengatakan penyelamatan lingkungan akan lebih besar jika digabungkan dengan produksi biogas. Sebelum dijadikan pakan, kotoran sapi dimanfaatkan dulu sebagai sumber biogas.
Memang, kotoran sapi telah diketahui banyak mengandung gas metana yang ikut menghasilkan efek rumah kaca. Menurut lembaga antariksa Amerika Serikat (AS) NASA, gas metana ini bahkan lebih aktif ketimbang karbon dioksida.
Jumlah gas metana di udara semakin meningkat dengan pertumbuhan industri peternakan. Badan perlindungan lingkungan AS, EPA, menyebutkan usaha peternakan menghasilkan 5,5 juta metrik ton metana per tahun atau mencapai 20% dari produksi metana negara tersebut.
Soelaiman mengatakan kandungan nutrisi tidak akan berubah jika kotoran sapi dimanfaatkan dulu untuk biogas. Bahkan sebenarnya peternak bisa mendapat untung ganda karena sekaligus mendapatkan energi yang bisa dimanfaatkan untuk kompor ataupun penerangan.
Saat ini, pakan dari kotoran sapi sudah mulai dikenalkan Soelaiman kepada para peternak sapi di sekitar tempat usahanya.
Berikut juga usaha pemanfaatan biogas. Soelaiman berharap para peternak sapi bukan hanya bisa mencegah dampak buruk lingkungan dari kegiatan mereka, tapi juga menambah penghasilan.
"Saya ingin temuan-temuan seperti ini bermanfaat secara luas oleh masyarakat. Saya tidak pernah mematenkan temuan saya. Siapa saja bebas untuk menggunakannya," kata inovator yang telah menghasilkan 30 karya itu. (M-6) .miweekend@ mediaindonesia.com




2 komentar:

salut buat sang inovator!

jadi inovasi bagi pengusaha jasa aqiqah pak, kita bisa bikin kandang kambing serta usaha lele, butuh ide cemerlang. salut pak..

Poskan Komentar