This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 29 September 2011

CARA MEMBUAT ABON LELE

Cara Membuat Abon Lele

Abon LeleAbon lele merupakan makanan tahan lama yang memiliki protein tinggi dan memiliki kadar kolesterol yang rendah. Anda pun dapat membelinya, bahkan juga berbisnis abon lele, seperti yang dilakukan Hj. Murti Rahayu dari Majenang, Cilacap.
Wilayah Majenang sejak lama dikenal dengan perikanan daratnya. Air yang melimpah mendukung pengembangan usaha tersebut. Salah satu jenis ikan yang banyak dibudidayakan warga setempat adalah lele. Namun, melimpahnya lele kerap tak ditunjang pemasaran dan kestabilan harga. Banyak petani lele pun jatuh bangun.
Kondisi tersebut menjadi keprihatinan tersendiri bagi Murti yang juga menjadi Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Kecil Majenang. Pada pertengahan tahun 2007, dia terpikir membuat penganan olahan dari lele yang dapat dijual kemasan dan punya nilai ekonomis tinggi.
”Bayangan saya yang pertama adalah mengolah lele menjadi abon. Daging sapi saja bisa jadi abon, kenapa lele tidak,” tutur ibu tiga anak ini.
Kebetulan, di rumahnya, sejak lama Murti membuka warung lesehan dengan menu aneka masakan ikan air tawar. Jadi, mengolah lele bukan hal baru.
Dibantu putri bungsunya, Indira K Paramita (29), Murti pun bereksperimen abon lele. Percobaan awal ini tak sepenuhnya berhasil. Sulit mengurangi tingginya kandungan minyak pada abon lele. Abon pun cepat tengik atau basi.
Selang beberapa hari, dia menemukan mesin pres tangan untuk mengurangi minyak. Sejak itu Murti berani menawarkan abon lele buatannya kepada teman dan tetangganya. Respons mereka positif. Abon lele Murti tak kalah dengan abon sapi.
Murti pun kian percaya diri. Tiga bulan setelah eksperimen, Murti mulai memasarkan abonnya yang bermerek Nazelia itu ke supermarket di Majenang dan Cilacap. Respons pasar lumayan. Dalam tiga hari abon lele itu ludes. Permintaan pun mengalir. Dia menjual abonnya seharga Rp 13.000 per satu kemasan plastik seberat 1 ons atau 100 gram.
Murti kian serius menekuni usaha abon lele. Selain celah pasar yang ada, usaha abon lele tak membutuhkan modal yang besar pada tahapan awal. Hal ini tak terlepas dari relatif murahnya harga ikan lele di Majenang.
Harga ikan lele hanya Rp 11.000 per kilogram (kg). Setiap kilogram menghasilkan 3 ons abon. Tiap 1 ons dijual Rp 13.000 sehingga keuntungan kotor tiga kali lipat. Keuntungan itu dikurangi biaya minyak goreng dan plastik kemasan. ”Untung bersihnya 30-50 persen,” ungkap Murti.
Selain dagingnya, kulit lele dimanfaatkan menjadi keripik. Namun, jumlahnya sangat terbatas. Dari 10 kg lele, hanya menghasilkan sekitar 15 bungkus keripik ukuran 100 gram. Keripik lele ini hanya jadi usaha sampingan Murti.
Kerupuk tengiri memang lebih terkenal sebagai oleh-oleh makanan dari Cilacap, namun bagi Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Kecil Distrik Majenang itu tak ada salahnya memperkenalkan camilan ikan air tawar dalam bentuk berbeda.
Indira, putri Ny Murti mengatakan ketertarikan membuat variasi penganan lele terdorong oleh usahanya membuka warung makan lesehan yang menyediakan berbagai menu ikan air tawar.
Pasokan lele yang melimpah dari kelompok tani perikanan air tawar membuatnya tak kehabisan ide. Masa percobaan selama tiga bulan barulah menghasilkan produk yang akhirnya diterima pasar.
”Memang, sebelumnya di Boyolali sudah ada abon lele, tetapi kami mencoba mengenalkan sebagai salah satu oleh-oleh dari Majenang, Cilacap, dan sekitarnya,” jelas Indira di sela-sela pameran PKBL mitra binaan PT Pertamina di Mal Ciputra Semarang.
Kesulitan biasanya, dari 10 kg lele bisa diolah menjadi 3 kg abon. Lele diperoleh dari kelompok tani seharga Rp 11 ribu/kg. Setelah jadi abon, per ons dipatok Rp 10 ribu dan dipasarkan ke berbagai kota antara lain Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lain di Indonesia.
Selain dagingnya, kulit lele dimanfaatkan menjadi keripik. Tetapi Indira mengaku agak kesulitan memasok dalam jumlah besar karena dari 10 kg lele hanya menghasilkan sekitar 15 bungkus keripik ukuran 100 gram. Setiap bulan bisa mengolah sekitar 5 kuintal lele untuk abon.
”Lele dikukus, lalu diambil kulitnya dan dijemur selama tiga hari, selanjutnya digoreng. Tapi karena jumlahnya tak seberapa, belum dipasarkan biasanya sudah banyak yang pesan,” tutur Indira yang memberi merek abonnya dengan nama ‘Nazelia’.
Tak sulit membuat abon lele. Daging ikan lele dibumbui seperti dendeng dengan ketumbar, merica putih, bawang putih, dan garam serta gula. Setelah direbus dengan bumbu hingga meresap, barulah digoreng kering.
Daging lele dipres hingga seluruh minyaknya keluar dan tersisa serbuk halus kecoklatan. Rasanya manis gurih dengan aroma bawang dan ketumbar yang kuat. Ada pula yang dicampur dengan bawang merah goreng, seperti lazimnya abon sapi.
Abon lele dikemas dalam plastik berlabel. Setiap saat bisa dinikmati. Dengan rasanya yang gurih, abon ini cukup ditaburkan di atas nasi atau ketan hangat sebagai lauk.
Hingga enam bulan pertama, kapasitas produksi abon lele Murti hanya 3 kilogram lele per hari. Namun, seiring permintaan yang terus meningkat dan pemasaran yang kian luas ke kota-kota besar, seperti Yogyakarta, Semarang, dan Purwokerto, kebutuhan bahan baku lele pun terus bertambah.
Apalagi, setelah dia mampu membeli mesin pres dari Surabaya, Jawa Timur, seharga Rp 2 juta, Murti kian percaya diri memasarkan produknya lebih luas. Dengan mesin baru itu, kualitas abonnya kian tinggi. Saat itu izin dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan sudah dikantonginya. Sertifikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun telah menyatakan bahwa abon lelenya halal.
Pada pertengahan 2008, Murti menjadi mitra binaan PT Pertamina Cilacap. Selain membantu permodalan melalui kredit lunak, badan usaha milik negara tersebut juga membantu pemasaran dengan cara memfasilitasi mitra binaannya mengikuti pameran-pameran.
”Saya sangat bersyukur bisa difasilitasi mengikuti pameran. Rasanya tak mungkin kalau ikut pameran sendiri karena biayanya sangat mahal. Buat ongkos transpor, sewa stan, dan akomodasinya tinggi,” ujarnya.
Pameran produk kerajinan usaha kecil yang pernah diikutinya, di antaranya, adalah di Yogyakarta, Jakarta, Semarang, dan Surabaya.
Keikutsertaan dalam aneka pameran tersebut sangat membantu Murti dalam memperkenalkan produknya kepada masyarakat. Pernah dalam sebulan dia mendapat kesempatan tiga kali pameran. Selain dapat memperkenalkan produknya, pada saat pameran Murti juga dapat menjual abonnya dalam jumlah lumayan besar.
Sejak tahun 2009, produksi abon lele Murti rata-rata per hari menghabiskan 10 kilogram lele atau 500 kilogram lele per bulan. Pasarnya pun kian luas hingga Jakarta, Bandung, dan Denpasar.
Untuk 10 kilogram lele dapat diolah menjadi 3 kilogram abon. Dalam sehari, rata-rata Murti dapat menghasilkan penjualan kotor Rp 300.000-Rp 400.000.
Saat pameran produk-produk khas Nusantara di Jakarta pada pertengahan 2009, produk abon lele Murti dilirik konsumen luar negeri. Salah satunya seorang distributor makanan asal Belanda. Sejak saat itu Murti mulai dapat mengekspor abon lelenya ke Negeri Kincir Angin itu.
Dalam sebulan, rata-rata dia dapat mengekspor 10 kilogram abon lele ke Belanda. Ekspor tersebut dilakukan melalui distributor di Jakarta.
”Daging ikan lele mengandung protein dan rendah lemak sehingga bisa dikonsumsi oleh mereka yang berdiet lemak. Karena itulah, orang dari Belanda itu suka abon lele saya,” katanya.
Sebenarnya, selain dari Belanda, ada permintaan abon lele dari negara lain. Namun, karena belum memahami prosedur ekspor dan modal yang terbatas, dia belum berani mengambil kesempatan tersebut.
Meski demikian, dia sudah sangat bersyukur dengan apa yang diraihnya saat ini. Dia tak menyangka abon lelenya yang dibuat dengan cara sederhana itu kini melanglang buana hingga ke Eropa.
”Jumlahnya, sih, memang belum banyak, tetapi saya sudah sangat senang karena abon lele saya disukai banyak orang, bahkan sampai di luar negeri,” kata Murti.
***
Resep Abon Lele
Bahan :
Lele 10 kg
Gula Merah 3 kg
Gula Pasir 1 kg
Lengkuas 250 gram
Sereh 10 batang
Daun Salam 10 lembar
Ketumbar 50 gram
Bawang Putih 250 gram
Bawang Merah 250 gram
Jahe 100 gram
Asam Jawa 100 gram, direbus dengan 200 cc air, saring, ambil airnya.
Garam secukupnya
Minyak goreng 2 kg
Cara Membuat:
1.Siapkan lele segar yang sudah dimatikan.
2.Pisahkan kulit dan daging dengan bantuan pisau.
3.Potong bagian kepalanya
4.Bersihkan isi perutnya.
5.Lepaskan daging dari tulang, sisihkan
6.Kukus daging hingga matang, dinginkan.
7.Suwir-suwir dengan garpu hingga halus.
8.Siapkan bumbu-bumbu, haluskan ketumbar, bawang putih, bawang merah, jahe, lengkuas,
9.Tumis bumbu halus dengan minyak goreng hingga harum, tambahkan sereh dan daun salam. Tambahkan air asam jawa+garam+gula pasir+gula merah.
10.MAsukkan daging lele yang sudah dihaluskan.
11.MAsak dan aduk hingga bumbu meresap.
12.PAnaskan minyak goreng dalam wajan, goreng daging lele sedikit demi sedikit hingga kecoklatan, angkat dan tiriskan.
13.Masukkan dalam alat pengepres minyak.
14.Abon lele siap disajikan dan bisa disimpan dalam toples.

Aplikasi BeKa Fish Probiotik pada Limbah Tahu untuk media Budidaya Maggot

Aplikasi BeKa Fish Probiotik pada Limbah Tahu untuk media Budidaya Maggot

Oleh Eddy Santoso · Terakhir disunting 5 menit yang lalu · Sunting Dokumen
                             Aplikasi BeKa Fish Probiotik pada Limbah Tahu
                                          untuk media Budidaya Maggot

-          BeKa Fish Probiotik diproduksi melalui proses bioteknologi menggunakan mikrobia pengurai bahan-bahan organik.
-          Aplikasi BeKa Fish Probiotik sesuai untuk fermentasi limbah tahu karena pada limbah tahu kandungan air nya masih cukup tinggi.

-          Media dibedakan menjadi 2 jenis :
  1. Media pemancing lalat : limbah ikan/daging lain yang berbau amis, tanpa penambahan probiotik. (jumlah media sedikit saja, karena fungsinya hanya sebagai pemancing agar lalat mau hinggap dan bertelur)
  • Mengapa tanpa probiotik? Karena apabila media pemancing diberi BeKa Fish Probiotik, lalat tidak mau datang (ada aroma pengusir serangga dan memutus daur hidup lalat dari panas yang dihasilkan saat proses fermentasi terjadi)
  • Media pemancing sangat penting karena menentukan jumlah lalat yang hinggap dan bertelur yang pada akhirnya menentukan maggot yang dihasilkan.
  1. Media Pemeliharaan larva lalat yang ditambahkan BeKa Fish Probiotik.
Mengapa harus ditambahkan BeKa Fish Probiotik  pada limbah tahu?
  • Kandungan nutrisi limbah tahu relatif masih cukup tinggi sehingga apabila di uraikan dengan baik akan bermanfaat bagi larva lalat yg menetas.
  • Fermentasi / dekomposisi memerlukan waktu yang lama bila tanpa bantuan probiotik :
-          limbah tahu tanpa BeKa Fish Probiotik  +/- 1 bulan, dengan BeKa Fish Probiotik +/- 1 minggu.
  • Mengurangi / menghilangkan polusi bau.
  • Bekas media budidaya merupakan bentuk pupuk organik yang sangat baik untuk pemupukan kolam ikan atau tanaman.

-          Dosis BeKa Fish Probiotik:
1 Liter BeKa Fish Probiotik ditambahkan air 200 Liter untuk 3-5 ton limbahTahu.
Atau
1 cc BeKa Fish Probiotik  ditambahkan 200 cc air untuk 3-5 kg limbahTahu.

-          Persiapan Fermentasi :
  1. Siapkan wadah/tempat fermentasi media sesuai dengan skala yang akan dibuat.
  2. Limbah tahu di ratakan tipis di lantai yang bersih, semprot dg larutan BeKa Fish Probiotik menggunakan hand sprayer, bila perlu aduk lagi hingga rata.
  3. Simpan di tempat yang teduh selama +/- 1 minggu. Selama proses awal fermentasi / dekomposisi ditandai dengan timbulnya panas pada media, juga masih adanya bau. Pada proses akhir fermentasi / dekomposisi sudah tidak ada lagi panas berlebih dan bau.
  4. Pada hari ke 7, media sudah siap digunakan untuk penetasan dan pembesaran larva lalat.

-          Apakah Media bekas bisa dimanfaatkan lagi?
  • Media bekas budidaya maggot akan mengalami penurunan kualitas selama masa budidaya, juga akan terkontaminasi oleh jamur dan mikrobia yang merugikan. Jadi sebaiknya pengulangan media budidaya maksimal hanya 1 kali saja untuk optimalisasi budidaya.
  • Media bekas budidaya maggot dapat dipergunakan sebagai pupuk organik yang sangat baik kualitasnya pada kolam ikan dan tanaman, dengan dosis 0,2 s/d 0,5 kg per meter persegi luas kolam.

-          Aplikasi Budidaya Maggot:
  • Biarkan media pemancing lalat berada di tempat terbuka selama +/- 3 hari, pastikan sudah terlihat adanya telur lalat.
  • Siapkan media yang sudah terfermentasi sebanyak 15 kg, pindahkan media pemancing beserta telur lalat ke media yang sudah terfermentasi.
  • Tempat budidaya dapat berupa tong bekas cat tembok, atau wadah lain. Wadah budidaya harus modifikasi dahulu agar larva tidak lari setelah menetas. Modifikasi dapat dilihat pada link sbb: http://www.youtube.com/watch?v=-kjNvE5IOdw&feature=related . Dengan modifikasi wadah budidaya, akan lebih mudah dalam menyimpan dan memanen maggot.
  • Biarkan selama kurang lebih 4 s/d 7 hari, larva lalat akan terlihat. Jangan biarkan lebih dari 9 hari, karena larva cenderung untuk pergi meninggalkan media dan mencari tanah sebagai habitat fase pupa untuk kemudian menjadi lalat.
  • Setelah dibersihkan dengan air, maggot dapat langsung diberikan pada ikan atau diolah untuk bahan campuran pakan buatan.
Dengan Media 15 kg hasil yang didapat bervariasi antara 5-9 kg maggot (berat basah) pada hari ke 4 s/d 7 masa budidaya.

daur hidup lalat (sumber:Small terrain.net.nz)

Gambar-Gambar Wadah Media Maggot


Aplikasi BeKa Dekomposer Plus Probiotik pada Limbah Ternak (sapi, kerbau, kambing, kuda serta ruminansia lainnya) dan Limbah Sawit untuk media Budidaya Maggot

Aplikasi BeKa Dekomposer Plus Probiotik pada Limbah Ternak (sapi, kerbau, kambing, kuda serta ruminansia lainnya) dan Limbah Sawit untuk media Budidaya Maggot

Oleh Eddy Santoso · Terakhir disunting 22 detik yang lalu · Sunting Dokumen
                    Aplikasi BeKa Dekomposer Plus Probiotik pada Limbah
Ternak (sapi, kerbau, kambing, kuda serta ruminansia lainnya) dan Limbah Sawit
                                     untuk media  Budidaya Maggot

-          BeKa Dekomposer Plus Probiotik diproduksi melalui proses bioteknologi menggunakan mikrobia pengurai bahan-bahan organic, terutama selulosa dan lignin.
-          Aplikasi BeKa Dekomposer Plus Probiotik  sesuai untuk fermentasi / dekomposisi  Limbah / Kotoran Ternak (sapi, kerbau, kambing, kuda serta ruminansia lainnya) dan Limbah Sawit.

-          Media dibedakan menjadi 2 jenis :
  1. Media pemancing lalat : limbah ikan/daging lain yang berbau amis, tanpa penambahan probiotik. (jumlah media sedikit saja, karena fungsinya hanya sebagai pemancing agar lalat mau hinggap dan bertelur)
  • Mengapa tanpa probiotik? Karena apabila media pemancing diberi BeKa Dekomposer Plus Probiotik, lalat tidak mau datang (ada aroma pengusir serangga dan memutus daur hidup lalat dari panas yang dihasilkan saat proses fermentasi terjadi)
  • Media pemancing sangat penting karena menentukan jumlah lalat yang hinggap dan bertelur yang pada akhirnya menentukan maggot yang dihasilkan.
  1. Media Pemeliharaan larva lalat yang ditambahkan BeKa Dekomposer Plus Probiotik.
Mengapa harus ditambahkan BeKa Dekomposer Plus Probiotik  pada Limbah / kotoran Ternak atau limbah Sawit? (selain limbah / kotoran Unggas)
  • Kandungan nutrisi limbah / kotoran Ternak atau limbah Sawit relatif masih cukup tinggi sehingga apabila di uraikan dengan baik akan bermanfaat bagi larva lalat yg menetas.
  • Fermentasi / dekomposisi memerlukan waktu yang lama bila tanpa bantuan probiotik :
-          Limbah ternak tanpa BeKa Dekomposer Plus Probiotik +/- 2 bulan, dengan BeKa Dekomposer Plus Probiotik +/- 3 minggu.
-          Limbah Sawit tanpa BeKa Dekomposer Plus Probiotik +/- 2 bulan, dengan BeKa Dekomposer Plus Probiotik +/- 1 bulan.
  • Mengurangi / menghilangkan polusi bau.
  • Bekas media budidaya merupakan bentuk pupuk organik yang sangat baik untuk pemupukan kolam ikan atau tanaman.

-          Dosis BeKa Dekomposer Plus Probiotik:

  • Media limbah / kotoran Ternak :
1 Liter BeKa Dekomposer Plus Probiotik  ditambahkan air 200 Liter untuk 3-5 ton limbah / kotoran Ternak.
Atau
1 cc BeKa Dekomposer Plus Probiotik   ditambahkan 200 cc air untuk 3-5 kg limbah / kotoran Ternak.
  • Media Limbah Sawit :
1 Liter BeKa Dekomposer Plus Probiotik  ditambahkan air 200 Liter untuk 3 ton limbah Sawit.
Atau
1         cc  BeKa Dekomposer Plus Probiotik  ditambahkan 200 cc air untuk 3 kg limbah Sawit.

-          Persiapan Fermentasi :
  1. Siapkan wadah/tempat fermentasi media sesuai dengan skala yang akan dibuat.
  2. Kotoran unggas di ratakan tipis di lantai yang bersih, semprot dg larutan BeKa Dekomposer Plus  Probiotik menggunakan hand sprayer, bila perlu aduk lagi hingga rata.
  3. Simpan di tempat yang teduh selama +/- 3 minggu untuk limbah ternak dan 30 hari untuk limbah Sawir. Selama 2 minggu pertama akan terjadi proses awal fermentasi / dekomposisi ditandai dengan timbulnya panas pada media dalam minggu pertama, juga masih adanya bau. Pada 2 minggu berikutnya terjadi proses akhir fermentasi / dekomposisi yang mana sudah tidak ada lagi panas berlebih dan bau.
  4. Pada minggu ke 3 untuk limbah ternak dan hari ke 30 untuk limbah Sawit, media sudah siap digunakan untuk penetasan dan pembesaran larva lalat.

-          Apakah Media bekas bisa dimanfaatkan lagi?
  • Media bekas budidaya maggot akan mengalami penurunan kualitas selama masa budidaya, juga akan terkontaminasi oleh jamur dan mikrobia yang merugikan. Jadi sebaiknya pengulangan media budidaya maksimal hanya 1 kali saja untuk optimalisasi budidaya.
  • Media bekas budidaya maggot dapat dipergunakan sebagai pupuk organik yang sangat baik kualitasnya pada kolam ikan dan tanaman, dengan dosis 0,2 s/d 0,5 kg per meter persegi luas kolam.

-          Aplikasi Budidaya Maggot:
  • Biarkan media pemancing lalat berada di tempat terbuka selama +/- 3 hari, pastikan sudah terlihat adanya telur lalat.
  • Siapkan media yang sudah terfermentasi sebanyak 15 kg, pindahkan media pemancing beserta telur lalat ke media yang sudah terfermentasi.
  • Tempat budidaya dapatberupa tong bekas cat tembok, atau wadah lain. Wadah budidaya harus modifikasi dahulu agar larva tidak lari setelah menetas. Modifikasi dapat dilihat pada link sbb: http://www.youtube.com/watch?v=-kjNvE5IOdw&feature=related . Dengan modifikasi wadah budidaya, akan lebih mudah dalam menyimpan dan memanen maggot.
  • Biarkan selama kurang lebih 4 s/d 7 hari, larva lalat akan terlihat. Jangan biarkan lebih dari 9 hari, karena larva cenderung untuk pergi meninggalkan media dan mencari tanah sebagai habitat fase pupa untuk kemudian menjadi lalat.
  • Setelah dibersihkan dengan air, maggot dapat langsung diberikan pada ikan atau diolah untuk bahan campuran pakan buatan.
Dengan Media 15 kg hasil yang didapat bervariasi antara 5-9 kg maggot (berat basah) pada hari ke 4 s/d 7 masa budidaya.

daur hidup lalat (sumber:Small terrain.net.nz)

Gambar-Gambar Wadah Media Budidaya Maggot


Pemanfaatan Limbah sebagai Media Budidaya Maggot untuk Pakan Tambahan pada Budidaya Pembesaran Lele

Pemanfaatan Limbah sebagai Media Budidaya Maggot untuk Pakan Tambahan pada Budidaya Pembesaran Lele

Oleh Eddy Santoso · Terakhir disunting sekitar seminggu yang lalu · Sunting Dokumen
                            Pemanfaatan Limbah sebagai Media Budidaya Maggot
                           untuk Pakan Tambahan pada Budidaya Pembesaran Lele

presentasi dalam:
FORUM GROUP DISCUTION (FGD) PENGEMBANGAN BUDIDAYA LELE ORGANIK, GURIH ALAMI, Klaten 17 September 2011
Oleh : Eddy Santoso

Tujuan : memberikan wacana tentang pemanfaatan berbagai macam limbah organik yang mudah didapatkan (diaplikasikan) untuk budiday maggot dari Lalat Hijau (Calliphora sp) yang mudah ditemui disekitar kita.
Batasan : Pakan tambahan dalam bentuk pakan hidup tidak dapat menggantikan (men subtitusi) fungsi pellet secara utuh, untuk tambahan / subtitusi disarankan hanya 20%-30%

Pendahuluan
Seperti kita ketahui bersama, pakan merupakan biaya terbesar dalam budidaya pembesaran lele (50-70%). Untuk itu perlu adanya terobosan yang sifatnya sederhana serta aplikatif oleh pembudidaya pembesaran lele. Salah satunya adalah budidaya Maggot yang sudah banyak kita dengar sejak tahun 2005. Dari berbagai penelitian oleh ilmuwan–ilmuwan kita, saya berusaha merangkumnya dengan tujuan agar lebih mudah diaplikasikan sendiri oleh pembudidaya lele.
Maggot sebagai salah satu sumber protein hewani (30-45% protein) sangat potensial sebagai pakan tambahan utk budidaya pembesaran lele, kelebihan lain dari belatung ini memiliki kandungan antimikroba dan anti jamur, sehingga apabila dikonsumsi oleh ikan akan tahan terhadap penyakit bakterial dan jamur.  Maggot dapat dihasilkan dari 2 jenis lalat yaitu Black Soldier Fly (Hermetia illucens) dan lalat hijau (Calliphora sp). Dari berbagai penelitian dapat dirangkum teknis budidaya Maggot yang sederhana dan aplikatif sebagai berikut:  

  1. Jenis Lalat yang dipakai : lalat hijau (Calliphora sp)
  2. Sistem budidaya terbuka dengan fermentasi media menggunakan mikrobia probiotik untuk meningkatkan kandungan nutrisi limbah serta menekan bakteri dan jamur yg merugikan pada media.
  3. Media : Syarat utama media adalah masih memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, pemilihan jenis media sangat berpengaruh terhadap maggot yang dihasilkan.
           -  Ampas Tahu + probiotik (BeKa Fish Probiotik) : 
              Mudah didapat, murah, proses fermentasi relatif cepat (7 hari)
               - Limbah kotoran Ayam / Puyuh + Probiotik (BeKa Chick Probiotik) :
                 Mudah didapat, murah, proses fermentasi agak lama (30 hari)
                 - Limbah Sawit (Palm Kerneal Meal) + Probiotik (BeKa Decomposer Plus):
                   Tidak mudah didapat, proses fermentasi agak lama (30 hari)
                   - Limbah kotoran Cattle (Sapi, Kambing dan hewan berkaki 4 lainnya) + Probiotik (BeKa Decomposer Plus) :
                     Mudah didapat, murah, proses fermentasi agak lama (30 hari)
                     - Media lainnya (sampah2 organik)

               4. Cara Kerja : (pada Forum FDG hanya dibahas ampas tahu)

                    - Fermentasi media :
            • Ampas tahu : 30 kg + air 15 liter + 5 cc BeKa Fsih Probiotik kemudian dimasukan ke dalam tong plastik, ditutup dengan sedikit lubang udara, timbun dengan sekam padi untuk mempertahankan suhu. Proses fermentasi ini memerlukan waktu selama 7 hari.
            • Untuk cara fermentasai media lainnya tidak dibahas dalam forum ini, mengingat keterbatasan waktu.

                   - Telur diperoleh dari lalat liar atau serangga bunga. Pada forum ini kita hanya membahas lalat hijau yg mudah didapatkan. Untuk merangsang agar lalat mau bertelur dilakukan dengan menempatkan ikan mati yang sudah dipotong-potong kemudian disimpan dalam wadah seperti baki plastik atau petridish yang selanjutnya ditempatkan dalam ruang terbuka.
                    -  Setelah diperoleh telur, kemudian disimpan dalam media kultur maggot. Pemeliharaan dalam media kultur dilakukan selama 4-5 hari. Setelah itu magot dapat dipanen, dengan cara dipisahkan dari media kultur dan berbagai kotoran lainnya. Adapun untuk larva magot dari serangga bunga pemeliharaan dalam media kultur memerlukan waktu 5-7 hari.


                 5. Beberapa Hasil & Pembahasan Penelitian tentang Budidaya Maggot:
              Beberapa Hasil Penelitian tentang budidaya Maggot : (sumber : BBPBAT Sukabumi, Jawa Barat
               dilaksanakan pada bulan April sampai Desember Tahun Anggaran 2005 di Laboratorium Pakan, danWorkshop Pakan BBPBAT Sukabumi, Jawa Barat)
              Produksi magot Calliphora sp dari cara pemeliharaan secara terbuka disajikan pada Tabel 1, hasil sistem tertutup disajikan pada Tabel 2 dan hasil produksi dalam selang 17 hari dari setiap wadah disajikan pada Tabel 3. 

              Tabel 1. Produksi maggot lalat hijau (Calliphora sp) umur 4 hari dalam bobot basah (kg) pada sistem pemeliharaan terbuka

              Tabel 2. Produksi magot Calliphora sp umur 4 hari dalam bobot basah (kg) pada sistem pemeliharaan tertutup
              Ket. : PKM = Palm Kerneal Meal (Limbah Kelapa Sawit)

              Tabel 3. Produksi maggot lalat hijau (Calliphora sp) umur 4 hari dalam bobot basah (kg) pada sistem pemeliharaan terbuka selama 17 hari menggunakan limbah ampas tahu (15 kg/wadah)
                Kesimpulan
                Berdasarkan hasil perekayasaan di Laboratorium Pakan, dan Workshop Pakan BBPBAT Sukabumi, Jawa Barat, 2005 ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
                - Model kultur magot yang dapat menghasilkan produksi yang tinggi adalah sistem kultur terbuka dibandingkan sistem tertutup. Dengan model ini, dapat diproduksi magot jenis Callipora sp dalam waktu produksi 17 hari dengan media kultur sebanyak 255 kg, diperoleh magot sebanyak 134 kg, sedangkan untuk jenis Hermetia illucens dalam waktu produksi 51 hari dengan media kultur sebanyak 150 kg, diperoleh magot sebanyak 91 kg.
                - Media kultur yang terbaik untuk magot jenis Calliphora sp adalah ampas tahu, sedangkan untuk jenisHermetia illucens adalah bungkil sawit (PKM) yang sudah difermentasi.

                Saran
                Berdasarkan hasil perekayasaan di Laboratorium Pakan, dan Workshop Pakan BBPBAT Sukabumi, Jawa Barat, 2005 ini, disarankan :
                - Jenis magot untuk dikembangkan secara massal yang terbaik adalah Hermetia illucens dibandingkan dengan Calliphora sp. Karena Hermetia illucens pada usia dewasa dalam kebiasaan hidupnya tidak hinggap dalam makanan manusia dan sebagai makanan utamanya adalah saribunga. Sedangkan Calliphora sp biasanya makanan utamanya adalah binatang yang sudah menjadi bangkai.
                - Dilihat dari kandungan proksimatnya, magot ini dapat dijadikan sumber protein alternatif tepung ikan, sehingga ada harapan mendapatkan protein hewani yang berkelanjutan dengan memanfaatkan limbah industri pertanian, yaitu limbah sawit.

                Gambar-gambar Wadah Budidaya Maggot:

                Aplikasi BeKa Chick Probiotik pada Limbah / Kotoran Unggas untuk media budidaya Maggot

                Aplikasi BeKa Chick Probiotik pada Limbah / Kotoran Unggas untuk media budidaya Maggot

                Oleh Eddy Santoso · Terakhir disunting 11 jam yang lalu · Sunting Dokumen
                daur hidup lalat (sumber:Small terrain.net.nz)


                            Aplikasi BeKa Chick Probiotik pada Limbah / Kotoran Unggas
                                                   untuk media  budidaya Maggot

                -          BeKa Chick Probiotik merupakan probiotik yang diproduksi melalui proses bioteknologi bahan-bahan organik, menggunakan mikrobia pengurai kotoran unggas yang unggul.
                -          Aplikasi BeKa Chick Probiotik sesuai untuk fermentasi / dekomposisi  Limbah / Kotoran Unggas (ayam petelur, ayam pedaging & puyuh)

                -          Media dibedakan menjadi 2 jenis :
                1. Media pemancing lalat : terdiri dari limbah / kotoran Unggas tanpa BeKa Chick Probiotik ditambahkan limbah ikan/daging lain yang berbau amis.
                (jumlah media sedikit saja, karena fungsinya hanya sebagai pemancing agar lalat mau hinggap dan bertelur)
                • Mengapa tanpa probiotik? Karena apabila media pemancing diberi BeKa Chick Probiotik, lalat tidak mau datang (ada aroma pengusir serangga dan memutus daur hidup lalat dari panas yang dihasilkan saat proses fermentasi terjadi)
                • Media pemancing sangat penting karena menentukan jumlah lalat yang hinggap dan bertelur yang pada akhirnya menentukan maggot yang dihasilkan.
                1. Media Pemeliharaan larva lalat yang ditambahkan BeKa Chick Probiotik.
                Mengapa harus ditambahkan BeKa Chick Probiotik pada Limbah / kotoran unggas?
                • Kandungan nutrisi limbah unggas relatif masih cukup tinggi sehingga apabila di uraikan dengan baik akan bermanfaat bagi larva lalat yg menetas.
                • Fermentasi / dekomposisi memerlukan waktu yang lama (+/- 2 bulan bila tanpa bantuan probiotik)
                • Mengurangi / menghilangkan polusi bau.
                • Bekas media budidaya merupakan bentuk pupuk organik yang sangat baik untuk pemupukan kolam ikan

                -          Dosis BeKa Chick Probiotik :
                • 1 Liter BeKa Chick Probiotik ditambahkan air 200 Liter untuk 3-5 ton kotoran unggas.
                Atau
                1 cc BeKa Chick Probiotik ditambahkan 200 cc air untuk 3-5 kg kotoran unggas.
                • Persiapan Fermentasi :
                1. Siapkan wadah/tempat fermentasi media sesuai dengan skala yang akan dibuat.
                2. Kotoran unggas di ratakan tipis di lantai yang bersih, semprot dg larutan BeKa Chick Probiotik menggunakan hand sprayer, bila perlu aduk lagi hingga rata.
                3. Simpan di tempat yang teduh selama +/- 30 hari. Selama 2 minggu pertama akan terjadi proses awal fermentasi / dekomposisi ditandai dengan timbulnya panas pada media dalam minggu pertama, juga masih adanya bau. Pada 2 minggu berikutnya terjadi proses akhir fermentasi / dekomposisi yang mana sudah tidak ada lagi panas berlebih dan bau.
                4. Pada hari ke 30, media sudah siap digunakan untuk penetasan dan pembesaran larva lalat.

                -          Apakah Media bekas bisa dimanfaatkan lagi?
                • Media bekas budidaya maggot akan mengalami penurunan kualitas selama masa budidaya, juga akan terkontaminasi oleh jamur dan mikrobia yang merugikan. Jadi sebaiknya pengulangan media budidaya maksimal hanya 1 kali saja untuk optimalisasi budidaya.
                • Media bekas budidaya maggot dapat dipergunakan sebagai pupuk organik yang sangat baik kualitasnya pada kolam ikan, dengan dosis 0,2 s/d 0,5 kg per meter persegi luas kolam.

                -          Aplikasi Budidaya Maggot:
                • Biarkan media pemancing lalat berada di tempat terbuka selama +/- 3 hari, pastikan sudah terlihat adanya telur lalat.
                • Siapkan media yang sudah terfermentasi sebanyak 15 kg, pindahkan media pemancing beserta telur lalat ke media yang sudah terfermentasi.
                • Tempat budidaya dapatberupa tong bekas cat tembok, atau wadah lain. Wadah budidaya harus modifikasi dahulu agar larva tidak lari setelah menetas. Modifikasi dapat dilihat pada link sbb: http://www.youtube.com/watch?v=-kjNvE5IOdw&feature=related . Dengan modifikasi wadah budidaya, akan lebih mudah dalam menyimpan dan memanen maggot.
                • Biarkan selama +/-  4 s/d 7 hari, larva lalat akan terlihat. Jangan biarkan lebih dari 9 hari, karena larva cenderung untuk pergi meninggalkan media dan mencari tanah sebagai habitat fase pupa untuk kemudian menjadi lalat.
                • Setelah dibersihkan dengan air, maggot dapat langsung diberikan pada ikan atau diolah untuk bahan campuran pakan buatan.
                Dengan Media 15 kg hasil yang didapat bervariasi antara 5-9 kg maggot (berat basah) pada hari ke 4 s/d 7 masa budidaya.